gerbang baru nusantara

Petani Sumenep akan Diberdayakan jadi Penghasil Porang

Petani Sumenep akan Diberdayakan jadi Penghasil Porang

Adi Suprayitno
Rabu, 10 Maret 2021
Bagikan img img img img
Masyarakat Kabupaten Sumenep, khususnya Desa Cangkreng, Kecamatan Lenteng, Kabupaten Sumenep yang kesehariannya sebagai petani akan diberdayakan menjadi penghasil tanaman porang. Mengingat tanaman porang memiliki nilai jual tinggi, dan perawatannya mudah.
 
Keseriusan untuk memberdayakan petani Sumenep itu, Anggota DPRD Jawa Timur dapil XIV (Bangkalan, Sampang, Pamekasan, dan Sumenep), Achmad Iskandar menghadirkan salah satu penggiat tanaman porang di Desa Cangkreng untuk memberi edukasi tentang porang, mulai cara penanaman, hingga pemasarannya. Dengan begitu, masyarakat mempunyai penghasilan tambahan di tengah pandemi covid-19. 
 
Iskandar menilai saat ini porang bisa menjadi tanaman alternatif pengganti tembakau pada tanah yang dianggap tidak produktif, sehingga mempunyai nilai ekonomis.
 
“Yang penting mereka mendapat solusi untuk mendapatkan penghasilan,” kata politisi asal Partai Demokrat tersebut di sela-sela jarring aspirasi di Desa Cangkreng, Rabu 3 Maret 2021.
 
Pria yang menjabat sebagai wakil Ketua DPRD Jatim itu mengaku siap menfasilitasi masyarakat berupa edukasi, mulai dari penanamannya, pemeliharaannnya hingga pemasaran. Seperti halnya ekspor. “Ketika berhubungan dengan masyarakat kenapa tidak kita fasilitasi,pasti kita fasilitasi,” paparnya.
 
Sementara terkait aspirasi kelangkaan pupuk, Iskandar menegaskan bahwa hal tersebut merupakan permasalahan yang komplek. Untuk itu, DPRD  akan berkomunikasi dengan Dinas Pertanian. 
 
“Dinas Pertanian telah memberikan (pupuk) sesuai luas lahan. Tetapi aspirasi ini kita tetap sampaikan. Saya tidak bisa memberi solusi karena ini masalah nasional,” tegasnya.
 
Iskandar menyebut pupuk telah dibagikan ke petani sesuai luasan tanahnya.  Hanya saja, dirinya tidak mengetahui akar permasalahnnya hingga terjadi kelangkaan pupuk.
 
“Jatahnya itu pas, pemerintah sudah berikan ke kecamatan ini berdasarkan luasan tanah. Dimana terjadi kelangkaan pupuk. Saya tidak tahu dimana permasalahnnya,” terangnya.
 
Sementara salah satu penggiat tanaman porang, Achmad Jaelani memberi edukasi kepada masyarakat soal porang agar tertarik, Mulai penanaman, pemeliharaan hingga pemasarannya. 
 
Jaelani menyebut selama inu banyak petani yang menanam tembakau tiap tahun, meskipun mereka merugi. 
 
“Saya tanya ke petani kalau harga tembakau Rp 1000-2000 per batang, dan itu musiman. Kalau musim hujan tidak bisa menanam tembakau,” ungkapnya.
 
Jaelani menilai tanaman porang mempunyai nilai ekonomis tinggi sehingga sangat bagus dijadikan solusi. Untuk itu, petani bisa diperdayakan dengan adanya tanaman baru yang sedang booming dua tahun terakhir.
Menurutnya, di kabupaten Sumenep ada 23 ribu hektar lahan tidur yang sangat potensial di tanami porang. Untuk itu, mulai saat ini kepala desa, tokoh masyarakat, kelompok tani diedukasi.
 
“Orang disini kulturnya satu orang punya lahan hektaran, kalau untuk tanam tembakau biaya produksinya mahal. Beda halnya porang biaya produksi murah, perawatannya mudah,” tuturnya.
 
Terkait penjualan Jaelani sudah banyak studi banding ke Madiun, dan beberapa daerah di Jawa. Bahkan dia berinisiatif menjadi pengurus Asosiasi petani porang. Dengan menjadi pengurus asosiasi petani porang, Jaelani bisa mengontrol harga porang di pasaran.  
 
“Sudah diajukan ke DPW selanjutnya disetujui DPP,” paparnya.
Harga porang dipasaran paling murah Rp 5 ribu. Sementara paling mahal Rp 15 ribu perkilogram. Jika porang diolah setengah, nilai ekonomisnya naik lagi menjadi Rp 50-60 ribu per kilo. Ekspor paling banyak tujuan ke Cina dan Jepang.
 
“Bisa menyerap banyak tenaga kerja. Kalau diolah porang diiris terus dijemur hingga kadar airnya sesuai ketentuan,” pungkasnya.

Berita Terkait

Berita Terkait

Agenda DPRD Provinsi Jawa Timur

Agenda DPRD Provinsi Jawa Timur

Index Menu

Index Menu