Angka Perceraian Tinggi di Bojonegoro, Politisi Go Tjong Ping Beber Penyebabnya
Tingginya angka perceraian yang tembus 1000 lebih di Bojonegoro disorot. Kehadiran pemerintah dinilai sangat perlu untuk menekannya.
Surabaya: Tingginya angka perceraian yang tembus 1000 lebih di
Bojonegoro disorot. Kehadiran pemerintah dinilai sangat perlu untuk
menekannya.
menurut anggota DPRD Jawa Timur Go Tjong Ping mengatakan pada umumnya
perceraian itu masalah ekonomi, kedua karena tidak ada yang mau
mengalah dan yang ketiga adalah munculnya orang ketiga yang mengganggu
rumah tangga.
" Perlu ada penyelesaian untuk menghindari tingginya perceraian
tersebut,"jelasnya, senin (17/7/2023).
Menurut politisi PDI Perjuangan ini,kunci keberhasilan merukunkan
rumah tangga itu adalah komunikasi. "sesering diadakan pertemuan
dengan keluarga. Diskusi bersama keluarga diskusi tipis tipis dan
sering makan luar rumah. Pada intinya Kita butuh menyatukan perasaan
masing-masing,"jelasnya.
Jadi, menurutnya, kalau ada sebuah pertengkaran dalam sebuah rumah
tangga tentunya bisa ingat waktu indah indahnya atau ingat anak saat
dirumah." Ini perlu diperhatikan setiap pasangan suami istri dalam
membangun sebuah rumah tangga,"jelasnya.
Lebih dari 1.000 istri menggugat cerai suami ke Pengadilan Agama
Bojonegoro dalam tempo 6 bulan di tahun ini. Hingga pertengahan tahun
ini Kantor Pengadilan Agama Bojonegoro hampir tidak pernah sepi
pengajuan perkara. Tercatat ada sebanyak 1.500 kasus perceraian selama
bulan Januari hingga Juni di tahun 2023 ini.
Mayoritas merupakan cerai gugat atau perceraian yang diajukan oleh
pihak istri jumlahnya mencapai lebih dari 1.000 perkara. Sisanya
merupakan cerai talak atau yang diajukan oleh pihak suami. Banyaknya
istri yang mengajukan gugatan cerai mayoritas disebabkan oleh faktor
ekonomi. Pihak suami dianggap tak mampu memenuhi nafkah keluarga.
Jika di runtut lagi kasus cerai juga dipengaruhi oleh latar belakang
pendidikan yang rendah. Sebagian besar pasangan yang bercerai menempuh
pendidikan hanya lulusan Sekolah Dasar, SMP, dan SMA. Sementara
lulusan perguruan tinggi jika bercerai sebagian besar bukan karena
faktor ekonomi.
Ketua Panitera Pengadilan Agama Bojonegoro, Solikin Jamik mengatakan
kebanyakan pengajuan gugatan cerai yang dilayangkan para istri
dikarenakan faktor ekonomi.
" Penyebab perceraian didominasi faktor ekonomi. Problem utamanya
pasti karena seorang istri menuntut nafkah sesuai harapan,’ ungkap
Solikin beberapa hari lalu.










