gerbang baru nusantara

Dirasa Kurang Tepat Sasaran , Komisi E DPRD Jatim Minta Dinsos Salurkan Anggaran Lebih Selektif

Anggota DPRD Jawa Timur, dr Benjamin Kristianto MARS mengatakan, dirinya sengaja mengumpulkan murid berkebutuhan khusus dalam rangka meningkatkan ekonomi keluarga dan kesejahteraan masyarakat.

Rofik Hardian
Jumat, 26 Juli 2024
Bagikan img img img img
Anggota DPRD Jawa Timur, dr Benjamin Kristianto MARS

Anggota DPRD Jawa Timur, dr Benjamin Kristianto MARS mengatakan, dirinya sengaja mengumpulkan murid berkebutuhan khusus dalam rangka meningkatkan ekonomi keluarga dan kesejahteraan masyarakat.

"Kami mengundang suatu yayasan yang menangani orang-orang difabel, orang-orang yang kebutuhan khusus. Mereka sudah terkumpul sekitar 61 anak (difabel)," ucapnya pada Jumat ( 26/7/2024 )

dr.Ben sapaan Akrab dr.Benjamin K ,MARS  menyebut dalam pengakuan pihak pengelola SLB Insani Tunas Mandiri Sidoarjo,  mereka tidak mendapat bantuan sama sekali. Pengelola secara mandiri dalam mengelola sekolah tersebut.

"Saya salut kepada ibu yang mengelola tempat tersebut karena dengan kemandiriannya mereka terpanggil untuk membantu mereka-mereka yang kebutuhan khusus atau difabel," ucapnya.

Politisi asal Partai Gerindra itu mengungkapkan bahwa meski berkebutuhan khusus, anak difabel mempunyai kelebihan sendiri. Seperti halnya bermain biola, dan kecepatan matematika. 

"Sesuai yang apa punya, talenta atau jadi punya apa yang kelebihan khusus karena setiap orang difabel itu pasti ada sisi satunya dia punya kelebihan yang tidak dimiliki oleh orang lain," tuturnya.

Ketua Kesehatan Indonesia Raya (Kesira Jatim) itu mendorong Dinas Sosial Jatim dan pihak swasta untuk memberi bantuan ke yayasan yang menangani difabel. Mengingat operasional SLB juga untuk membutuhkan guru.

"Kita kadang-kadang pada rapat hearing ataupun rapat anggaran sudah memplotkan anggaran ini buat bantu ini (yayasan difabel). Lucunya anggaran ini untuk membantu orang yang dititipi atau yayasan yang bentuknya nggak ada atau bingung mau taruh di mana. Kegiatannya masih belum jelas,"  katanya.

Pria yang menjabat anggota Komisi E DPRD Jatim itu menegaskan, seharusnya anggaran diberikan kepada suatu yayasan yang sudah berjalan. Bukan ke yayasan yang akan beroperasi. Maka, anggaran bisa diberikan ke yayasan yang sudah berjalan dan mempunyai 60 siswa.

"Sudah bukan fiktif artinya tidak bohong, sudah jelas. Kenapa anggaran ini tidak diberikan pada suatu yayasan apapun namanya yang memang jelas-jelas sudah berjalan dan memang punya kegiatan ataupun punya siswanya," tambahnya.

Benjamin menyayangkan Dinas Sosial tidak melakukan survei ke yayasan -yayasan yang benar-benar membutuhkan bantuan anggaran. Survei tersebut juga untuk pendataan jumlah siswa-siswi difabel di Jatim.

"Kalau lihat kasus ini ada kelewatan berarti. Dinas (Dinsos) itu seharusnya survei yayasan apa aja yang ada. Dengan survei, terus dia mapping, oh yang ini sudah bisa mandiri, ini sudah kuat segala macam, clear.Oh yang ini baru berdiri ata baru berjalan secara mandiri itu yang dibantuin," tegasnya.

Kepala SLB Insani Tunas Mandiri Sidoarjo, Teti Agustina menyebut bahwa di lembaga pendidikannya ada 61 anak berkebutuhan khusus dan tidak mampu. Teti mendirikan lembaga sejak tahun 2012 berbentuk tempat terapi anak difabel. Dalam perjalanannya, tahun 2017 ditingkatkan menjadi SLB. 

Teti mengaku bahwa selama memimpin SLB tersebut, lembaga hanya menerima bantuan dana dari Dinas Pendidikan Jatim. Bantuan diberikan kepada siswa siswi yang benar-benar tidak mampu. Sementara bantuan dari Dinas Sosial, Teti menyebut tidak pernah mendapatkannya.

Berita Terkait

Berita Terkait

Agenda DPRD Provinsi Jawa Timur

Agenda DPRD Provinsi Jawa Timur

Index Menu

Index Menu