Inflasi Pangan Di Depan Mata, Kolaborasi Pemprov Dan Pemda di Jawa Timur Dibutuhkan Mendesak
Anggota DPRD Jawa Timur Ahmad Iwan Zunaih mengatakan sekaran ini sejumlah pabrik penggilingan atau produsen beras lokal mulai menyetop produksi karena kekurangan gabah dan tingginya biaya operasional.
Anggota DPRD Jawa Timur Ahmad Iwan Zunaih mengatakan sekaran ini sejumlah pabrik penggilingan atau produsen beras lokal mulai menyetop produksi karena kekurangan gabah dan tingginya biaya operasional.
"Atau bisa juga karena tingginya harga gabah yang tidak sesuai lagi jika dikonversi ke harga jual beras, termasuk karena sulitnya untuk mencari pupuk khususnya pupuk subsidi," jelas politisi NasDem ini, Jumat (1/11/2024).
Pria asal Lamongan ini mengatakan gambaran tersebut menunjukkan betapa ancaman inflasi dari sektor pangan sudah didepan mata. " Pemprov memiliki konsentrasi ke depan untuk mengatasinya, dirinya berharap agar kerja keras menurunkan angka kemiskinan tidak bisa sesuai dengan target harapan yaitu 0 persen,"tuturnya.
Pria yang akrab dipanggil gus Iwan ini mengatakan tentunya perlu ada kolaborasi pemerintah ke berbagai level perlu dilakukan penguatan dan peningkatan agar menghasilkan hasil yang maksimal.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Jatim, Adhy mengatakan pada September 2024, inflasi Jatim berada pada posisi 1,73 persen secara year on year (yoy).Angka itu menurun dibandingkan pada bulan Juli dan Agustus 2024 yang sebesar 2,13 persen yoy dan 2,05 persen yoy.
Tingkat inflasi Jatim ini di topang oleh sejumlah komoditi yang mengalami deflasi.Kondisi itu memberikan andil dalam menjaga stabilitas inflasi di Jatim sesuai target nasional di kisaran 2,5 sampai 1 persen.
Pada September 2024 Jawa Timur deflasi sebesar 0,12 persen secara month to month (mtm) hal ini dipicu kelompok makanan, minuman dan tembakau yang berkontribusi sebesar negatif 0,16 persen terhadap inflasi umum.
Kemudian, cabai rawit menjadi komoditi yang memberikan sumbangsih penurunan terbesar terhadap inflasi umum Jatim, yakni sebesar minis 0,13 persen. Selain itu ada cabai merah sebesar minus 0,04 persen, telur ayam ras minus 0,02 persen dan daging ayam ras sebanyak minus 0,01 persen.










