Bandara di Kediri Berhenti Beroperasi, Heri Romadhon: Perlu Sinergi Antar Lembaga Untuk Hidupkan Lagi
Anggota komisi D DPRD Jawa Timur Heri Romadhon mengatakan perlu ada upaya untuk memaksimalkan peran bandara agar ramai digunakan. Menurutnya perlu sinergitas antara lembaga, khususnya pemerintah daerah (pemda) dalam membangun intermoda dan daerah wisata.
Anggota komisi D DPRD Jawa Timur Heri Romadhon mengatakan perlu ada upaya untuk memaksimalkan peran bandara agar ramai digunakan. Menurutnya perlu sinergitas antara lembaga, khususnya pemerintah daerah (pemda) dalam membangun intermoda dan daerah wisata.
"sebuah bandara tidak cukup dipandang hanya ada dengan mengesampingkan moda transportasi menuju dan kekuar bandara. "Pengguna pesawat saat ini bukan hanya orang kaya, namun orang menengah ke bawah juga memakainya," papar politisi PAN ini, selasa 17 Juni 2025.
Karena itu, sambung mantan wakil ketua DPRD Blitar ini, intermoda atau sistem transportasi yang menggunakan berbagai jenis moda perlu dibangun untuk mendukung bandara. "Tidak hanya bus dan travel, kereta api juga dibutuhkan agar biaya transportasi ke bandara itu murah," terangnya.
Tidak hanya soal intermoda, lanjutnya, peran dari pemda setempat juga perlu lebih luas. Dia lalu mencontohkan peran pemda Banyuwangi yang berhasil menghidupkan bandara adalah Banyuwangi. Hal itu karena pengembangan tempat wisata di Banyuwangi yang juga sangat menarik. Seperti Kawah Ijen, Taman Nasional Baluran, Bangsring Underwater, Pantai Pulau Merah, dan De Djawatan.
"Hal semacam ini perlu dicontoh pemda Kediri. Artinya, bandara itu untuk hidup butuh kontribusi semua pihak," urainya.
Sekedar diketahui,tidak ada penerbangan di Bandara Dhoho Kediri, Jawa Timur, hingga 31 Juli 2025. Jadwal sementara kosong setelah satu-satunya maskapai yang melayani rute Kediri menghentikan operasional.Bandara yang diresmikan pada 18 Oktober 2024 itu, harus berhenti operasi hingga 31 Juli 2025. Bandara itu dipastikan kosong alias tidak ada pesawat yang beroperasi.
Bandar Udara Dhoho dibangun dengan standar internasional, dengan landasan pacu sepanjang 3.300 meter dan lebar 45 meter, mampu menampung pendaratan pesawat jet berbadan lebar.Terminal penumpang di bandara tersebut dirancang untuk menampung hingga 1 ,5 juta penumpang setiap tahunnya pada tahap awal, dan akan mampu menampung hingga 10 juta penumpang per tahunnya pada tahap ultimatenya, memastikan kenyamanan dan kemudahan bagi para penumpang pesawat udara.
Untuk penerbangan pertama, maskapai Citilink Indonesia, menawarkan rute Jakarta - Kediri pulang dan pergi menggunakan pesawat tipe A320 CEO dengan kapasitas 180 penumpang. Penerbangan perdana tersebut dilakukan pada Jumat, 5 April 2024, menggunakan pesawat tipe A320 CEO dengan kapasitas 180 penumpang.
Bandar Udara Dhoho Kediri tersebut dioperasikan oleh Angkasa Pura Indonesia sejak 29 Maret 2023 berdasarkan Kerja Sama Operasional antara PT Angkasa Pura I dengan PT Surya Dhoho Investama (SDhI) yang dilengkapi dengan infrastruktur penunjang seperti runway dengan dimensi 3.300 meter x 45 meter yang mampu melayani pesawat berbadan besar (wide body) Boeing 777-300ER.










