gerbang baru nusantara

Reses di Tuban, Fauzan Fuadi Terima Aspirasi Soal Tunjangan Guru Madin hingga Penataan PKL

Anggota DPRD Jawa Timur dari Dapil Jatim XII (Bojonegoro - Tuban), Fauzan Fuadi, menerima berbagai aspirasi masyarakat dalam agenda kegiatan Reses II Tahun 2025 di Kabupaten Tuban, Selasa (1/7/2025).

Wanto
Selasa, 01 Juli 2025
Bagikan img img img img
Anggota DPRD Jawa Timur dari Dapil Jatim XII (Bojonegoro - Tuban), Fauzan Fuadi

Anggota DPRD Jawa Timur dari Dapil Jatim XII (Bojonegoro - Tuban), Fauzan Fuadi, menerima berbagai aspirasi masyarakat dalam agenda kegiatan Reses II Tahun 2025 di Kabupaten Tuban, Selasa (1/7/2025).

Fauzan mengungkapkan bahwa beragam isu strategis muncul dari masyarakat. Mulai dari persoalan guru madrasah diniyah (Madin) dan taman pendidikan Al-Qur’an (TPQ) hingga penataan pedagang kaki lima (PKL).

“Ini saya sudah hari ketiga titik keempat, Alhamdulillah macam-macam aspirasi yang muncul. Hari ini saya dapat masukan soal realisasi tunjangan atau insentif guru Madin TPQ. Ada juga masukan soal penataan PKL,” kata Fauzan saat ditemui di salah satu titik reses di Tuban.

Menurutnya, isu penataan PKL cukup hangat di Tuban menyusul adanya demonstrasi beberapa waktu lalu yang menolak kebijakan relokasi oleh pemerintah daerah. Menyikapi hal tersebut, Fauzan menegaskan komitmennya untuk merespons sesuai dengan tugas dan fungsi legislatif.

“Nah, kami tentu saja sesuai tusinya akan merespons, memilah-milah isu-isu, aspirasi yang masuk itu untuk kemudian kita salurkan sesuai dengan kewenangan masing-masing,” jelas politisi asal PKB tersebut.

Fauzan juga menegaskan bahwa meski kewenangan penuh berada di tingkat eksekutif, DPRD Provinsi tetap dapat menindaklanjuti aspirasi melalui komunikasi dengan pihak yang memiliki otoritas kebijakan.

“Kami di provinsi meski bisa merespons dengan melakukan pembahasan, tapi kan respons dalam bentuk langkah mengkomunikasi ini dengan yang punya otoritas kan masih sangat mungkin,” imbuhnya.

Lebih lanjut, Fauzan menuturkan bahwa aspirasi dari kalangan muda juga sangat mendominasi pada titik reses sebelumnya.

“Hari pertama kemarin ada lebih banyak teman-teman milenial dan anak-anak pemuda. (Aspirasi) yang disampaikan mereka terkait lapangan kerja dan pendidikan. Mereka minta diperhatikan, setelah selesai menempuh pendidikan, mereka minta kayak jaminan pekerjaan. Kita dengar, full up dengan proporsional,” ucapnya.

Menurut Fauzan, perhatian pemerintah selama ini terhadap pemuda memang sudah ada. Namun, ia mengakui bahwa pelaksanaan di lapangan masih perlu disesuaikan dengan kebutuhan riil masyarakat.

“Perhatian selama ini kan sudah banyak, cuma mungkin sasaran dan aspek, kesesuaian dengan kebutuhan di lapangannya itu yang mungkin belum maksimal dilakukan. Pelatihan sebanyak apa pun dilakukan kalau keperluannya hanya menyerap atau menghabiskan anggaran kan percuma,” tegasnya.

Untuk itu, Fauzan menyoroti tren pemanfaatan media sosial oleh generasi muda yang berpotensi besar menjadi sumber ekonomi baru. Namun, ia menilai banyak di antara mereka belum mendapat pembinaan yang tepat.

“Yang butuh itu apa? Sekarang misalnya masyarakat kita ini happening dengan model-model mencari ekonomi dengan memanfaatkan sosial media, misalnya,” ujarnya.

Lebih lanjut, ia menilai pemerintah perlu hadir untuk memberikan pelatihan profesional dalam pemanfaatan media sosial secara optimal.

“Bagaimana memanfaatkan akun sosial media yang mereka punya itu secara profesional. Supaya di situ tidak hanya sekadar gaya-gayaan punya akun sosial media, eksistensi diri dan seterusnya. Tapi betul-betul di situ ada muatan ekonomi atau manfaat sosial, atau manfaat-manfaat lain yang bisa didapat tidak hanya sekadar gaya-gayaan,” jelasnya.

Menurutnya, pendampingan bagi pemula sangat penting karena mereka tidak memiliki modal sosial seperti selebritas atau influencer.

“Itu kan berarti perlu dibina. Karena selama ini yang memanfaatkan sosial media yang menghabiskan ya mereka yang dengan tingkat pengaruh ke masyarakat yang sudah sangat luas. Artinya pesohor-pesohor, artis atau mereka yang sudah punya modal follower besar, sehingga mau memanfaatkan akunnya itu atau followernya untuk kepentingan ekonomi itu bisa,” paparnya.

“Sementara yang pemula, yang mulai dari awal, kan tidak bisa kalau tidak didampingi. Nah ini pemerintah kabupaten, pemerintah provinsi semua mesti berkolaborasi untuk membuat tools yang dari atas ke bawahnya itu seragam. Jangan jalan sendiri-sendiri, kalau jalan sendiri-sendiri tidak bisa,” tambah Fauzan.

Terkait relevansi pelatihan yang ada saat ini, Fauzan menilai bukan soal keberadaannya, tetapi lebih pada konten pelatihan yang perlu disesuaikan dengan perkembangan zaman.

“Pelatihan tetap, cuma isu pelatihannya apa, harus diubah. Karena banyak yang bisa dimanfaatkan tapi belum dilakukan,” pungkasnya.

Berita Terkait

Berita Terkait

Agenda DPRD Provinsi Jawa Timur

Agenda DPRD Provinsi Jawa Timur

Index Menu

Index Menu