Masuk katagori daerah miskin, Oni Setiawan yakin Tuban bisa bangkit dan keluar dari daftar daerah miskin
Kabupaten Tuban menjadi sorotan kalangan DPRD Jatim. Pasalnya Kabupaten yang terkenal dengan Bumi Wali dan Bumi Ronggolawe, tercatat sebagai salah satu daerah dengan tingkat kemiskinan tertinggi di Jawa Timur.
Kabupaten Tuban menjadi sorotan kalangan DPRD Jatim. Pasalnya Kabupaten yang terkenal dengan Bumi Wali dan Bumi Ronggolawe, tercatat sebagai salah satu daerah dengan tingkat kemiskinan tertinggi di Jawa Timur. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2024, Tuban menempati posisi kelima dengan persentase penduduk miskin mencapai kisaran 14,36% hingga 14,91%.
Menyikapi hal ini, Anggota DPRD Jawa Timur dari Daerah Pemilihan Bojonegoro - Tuban Ony Setiawan menegaskan bahwa Tuban memiliki potensi sehingga ditakini akan bisa bangkit dan kembali berjaya, seperti halnya pada masa lalu.
"Tuban sampai data terakhir lima dari bawah. Letak geografis—kalau kita berbicara geografis—wilayah barat paling jauh dari pusat perekonomian dan sarana transportasi," ujar Ony Setiawan, Kamis (10/07/2025).
Menurut Ony, letak geografis Tuban yang berada di ujung barat laut Jawa Timur membuat daerah tersebut kurang dilirik dalam hal investasi. Jarak yang cukup jauh dari pusat-pusat pertumbuhan ekonomi dan minimnya konektivitas transportasi memengaruhi masuknya arus modal ke wilayah tersebut. Dampaknya, potensi sumber daya manusia (SDM) dan sumber daya alam (SDA) di Tuban belum tergarap secara maksimal.
Kondisi ini, lanjutnya, turut berdampak pada lambannya penyerapan tenaga kerja dan lemahnya daya beli masyarakat. Padahal, sektor pertanian—terutama jagung—dan perikanan di Tuban memiliki nilai produksi yang besar dan seharusnya bisa menjadi penggerak utama ekonomi lokal.
"Potensi pertanian jagung. Ini potensi. Dan ini harus di optimalkan. Semua pihak khususnya pemegang kebijakan harus maksimal lagi dilakukan dalam pengembangan potensi itu," jelasnya.
Selain itu anggota Fraksi PDI Perjuangan DPRD Jatim ini, menekankan pula bahwa semangat untuk bangkit harus terus dikobarkan, baik dari pemerintah maupun masyarakat Tuban sendiri.
Semangat lokal yang pernah membawa Tuban menjadi salah satu wilayah agraris yang berjaya pada masa lalu lanjutnya harus terus dibangkitkan dan dipelihara.
"Tuban bangkit harus menjadi spirit. Tuban berjaya harus digelorakan. Suport harus di berikan. Segingga akan membuat Harus seluruh rakyat Tuban optimis bangkit," ujarnya.
Lebih lanjut Ony juga mendorong agar pemerintah provinsi dan pemerintah daerah Tuban memberikan perhatian khusus terhadap penguatan kualitas SDM di daerah tersebut.
Menurutnya, peningkatan kemampuan dan produktivitas masyarakat sangat penting agar hasil dari sektor pertanian dan perikanan mampu memberi dampak langsung terhadap peningkatan kesejahteraan dan daya beli masyarakat.
“Pemerintah harus dorong untuk penguatan SDM agar mampu menaikkan daya beli dari hasil pertanian dan perikanannya. Lalu pemerintahan melakukan fasilitasi terhadap kebutuhan masyarakat tersebut,” tegasnya.
Sebagai anggota Komisi B yang membidangi perekonomian dan industri, Ony menyebut pihaknya akan mendorong kebijakan yang lebih berpihak kepada daerah-daerah pinggiran seperti Tuban.
Termasuk perlu ada insentif kebijakan dan program-program terintegrasi yang menghubungkan sektor produksi lokal dengan pasar regional maupun nasional.
“Kami di Komisi B tentu akan memperjuangkan program yang bisa menjangkau dan mengakselerasi pertumbuhan di kawasan seperti Tuban. Tidak cukup hanya dengan narasi optimisme, perlu keberpihakan nyata dalam program pembangunan,” imbuhnya.
Ony menilai kolaborasi antara pemerintah pusat, provinsi, dan daerah sangat krusial. Upaya-upaya penguatan infrastruktur pertanian, peningkatan akses pasar, dan dukungan pembiayaan UMKM bisa menjadi bagian dari strategi menyeluruh untuk mendorong kebangkitan ekonomi Tuban.
“Potensi pertanian dan perikanan di Tuban tidak boleh hanya jadi cerita. Harus jadi kekuatan ekonomi nyata bagi rakyat,” pungkasnya.










