Hari Anak Nasional 2025, Komisi E Minta Orang Tua Ajari Anak Bijak Berteknologi
Hari Anak Nasional (HAN) yang diperingati yang jatuh pada 23 Juli 2025 hari ini harus pembelajaran orang tua untuk mengajari anaknya agar bijak dalam berteknologi yang negatif.
Hari Anak Nasional (HAN) yang diperingati yang jatuh pada 23 Juli 2025 hari ini harus pembelajaran orang tua untuk mengajari anaknya agar bijak dalam berteknologi yang negatif. Mengingat saat ini serangan teknologi yang modern kepada anak-anak menjadi tantangan berat bagi orang tua.
Ketua Komisi E DPRD Provinsi Jawa Timur, Sri Untari Bisowarno menilai di tengah modernisasi saat ini, peraturan daerah (perda) yang relevan untuk melindungi anak. Untuk itu, Komisi E tengah menggodok Raperda tentang Penyelenggaraan Pelindungan Perempuan dan Anak.
"Komisi E membahas ini dan kami bekerja sama dengan seluruh entitas yang peduli pada anak dan perempuan. Supaya nanti kita punya pedoman, punya dasar dalam memberikan pelindungan, memberikan tata laksananya, mengayomi dan menjadikan anak-anak kita menjadi generasi emas," ucapnya.
Politisi asal PDI-P menyebut dampak perkembangan teknologi bagi anak-anak sangat luar biasa. Seperti halnya angka kekerasan terhadap anak semakin naik akibat teknologi yang mudah diakses.
"Kekerasan terhadap anak semakin hari semakin meningkat, itu dipicu oleh berlimpahnya teknologi, informasi yang mudah sekali diakses dari gadget, dan dari apa saja," ungkap Untari, sapaan akrabnya.
Untari menjelaskan, gempuran teknologi yang mudah diakses membuat anak kesulitan melakukan filter. Akibat yang didapat adalah sisi negatif bagi anak-anak.
"Kita melihat ada anak 12 tahun kecanduan seksual, saya sedih sekali. Meronta-ronta rasanya hati sebagai ibu ya," ucap Legislator asal Dapil Malang Raya itu.
Politisi asal PDI-P itu juga menyoroti sejumlah kejadian yang menyebabkan anak jadi korban. Seperti halnya masih banyaknya anak-anak yang jadi korban kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).
Untari menyesatkan masih banyaknya m orang tua mempekerjakan anak-anaknya. Selain itu, anak yang belum cukup usia, harus dinikahkan menikah oleh keluarga.
Persoalan ini harus menjadi perhatian bersama. Mengingat, anak-anak menentukan nasib generasi berikutnya.
"Kalau anak-anak ini sakit, tidak hanya sakit fisik, tapi juga yang paling parah adalah sakit mental mereka, jiwa mereka terluka. Sehingga Mereka tidak bisa menjadi anak-anak yang tumbuh dengan baik, itu kesalahan kolektif," paparnya.










