Cuaca Ekstrem Sampai Akhir 2025, La Niña Incar Jawa Timur
Khusnul Arif mengimbau warga Jawa Timur waspada cuaca ekstrem dan potensi La Niña hingga awal 2026, menyusul peringatan BMKG terkait peningkatan curah hujan dan risiko hidrometeorologi.
DPRD Jatim Imbau Warga Waspada Cuaca Ekstrem hingga Awal 2026
SURABAYA — Wakil Ketua Komisi D DPRD Jawa Timur, Khusnul Arif, mengimbau masyarakat di seluruh wilayah Jawa Timur untuk meningkatkan kewaspadaan menghadapi cuaca ekstrem yang masih berpotensi terjadi hingga awal 2026.
Peringatan ini disampaikan menyusul adanya indikasi kuat munculnya fenomena La Niña, yang menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), dapat berdampak pada peningkatan curah hujan di berbagai daerah.
“Perlu diwaspadai karena BMKG telah mengeluarkan informasi potensi La Niña yang diprediksi muncul akhir tahun 2025 hingga awal 2026,” ujarnya, Jumat (05/12/2025).
Menurut politisi NasDem itu, masyarakat perlu memahami langkah mitigasi bencana dengan baik, mengingat La Niña dapat meningkatkan risiko hidrometeorologi.
“La Niña sering menyebabkan peningkatan curah hujan signifikan yang memicu banjir dan tanah longsor,” tuturnya.
Sejumlah Kota Berstatus Waspada Hujan Lebat
BMKG sebelumnya mengeluarkan peringatan cuaca terkait potensi hujan lebat disertai kilat di sejumlah kota besar di Indonesia. Peringatan ini didasarkan pada meningkatnya curah hujan dalam beberapa pekan terakhir dan pola atmosfer yang menunjukkan pergeseran menuju puncak musim hujan.
Peningkatan curah hujan di berbagai wilayah Indonesia, termasuk Jawa Timur, merupakan bagian dari fase transisi menuju intensitas hujan yang lebih tinggi. Kondisi ini perlu diantisipasi masyarakat, terutama yang tinggal di daerah rawan banjir dan longsor.
Baca Selengkapnya: Puguh Tekankan Normalisasi Sungai sebagai Usaha Penanganan Banjir di Malang
Nataru Hingga Awal 2026 Berpotensi Risiko Hidrometeorologi
Mengingat intensitas cuaca ekstrem yang meningkat, DPRD Jatim meminta agar masyarakat menerapkan kewaspadaan tambahan selama periode Natal dan Tahun Baru (Nataru) hingga awal 2026—periode yang biasanya menjadi puncak aktivitas perjalanan dan mobilitas tinggi.
Fenomena serupa juga menjadi perhatian DPRD Jatim dalam beberapa peringatan sebelumnya soal cuaca ekstrem di wilayah selatan Jawa Timur dan risiko hidrometeorologi.










