Masalah Gizi Ibu dan Balita di Malang, DPRD Jatim Dorong PMT Masif
DPRD Jatim menyoroti masih tingginya masalah gizi ibu dan balita di Malang. Solusi yang didorong adalah pemberian makanan tambahan (PMT) secara masif dan terintegrasi.
Ribuan Ibu dan Balita Alami Masalah Gizi
Surabaya — Masalah gizi pada ibu dan balita masih ditemukan di wilayah Malang Raya. Jumlahnya diperkirakan mencapai 11.709 orang yang mengalami berbagai persoalan gizi.
Anggota DPRD Jawa Timur, Dewanti Rumpoko, menyatakan keprihatinannya atas kondisi tersebut dan mendorong langkah konkret dari pemerintah.
“Perlu ada gerakan pemberian makanan tambahan atau PMT secara masif. Sudah saatnya pemerintah provinsi dan pemerintah daerah setempat bersinergi untuk mengatasinya,” ujar politisi PDI Perjuangan itu, Senin (06/04/2026).
PMT Jadi Solusi Perbaikan Gizi Ibu dan Anak
Dewanti menjelaskan, program Pemberian Makanan Tambahan (PMT) bertujuan memberikan asupan gizi kepada balita dalam bentuk kudapan yang aman, bermutu, dan sesuai kebutuhan.
Menurutnya, program ini tidak hanya berdampak pada individu penerima, tetapi juga memperkuat sistem kesehatan di tingkat komunitas.
“PMT tidak hanya menyasar individu, tetapi juga menjadi bagian dari penguatan sistem kesehatan masyarakat,” jelas mantan Wali Kota Batu tersebut.
Permasalahan gizi ini juga menjadi perhatian DPRD Jatim dalam berbagai kebijakan dan pengawasan.
baca selengkapnya:
-
pentingnya gizi ibu dan bayi untuk mendukung masa golden age
-
kritik DPRD terhadap penganggaran penanganan gizi buruk di Jawa Timur
-
dorongan DPRD agar pemerintah segera mengatasi kasus gizi buruk di daerah
Cegah Risiko BBLR dan Komplikasi Persalinan
Dewanti menambahkan, PMT juga perlu diberikan kepada ibu dengan kondisi Kekurangan Energi Kronis (KEK) guna mencegah berbagai risiko kesehatan, termasuk bayi berat badan lahir rendah (BBLR).
Selain itu, intervensi gizi dinilai penting untuk menekan risiko komplikasi saat persalinan, seperti perdarahan.
Berdasarkan data di Malang Raya, sebanyak 1.709 ibu dan balita menjadi sasaran program PMT karena mengalami masalah gizi dan KEK. Bahkan, ditemukan kasus balita stunting dengan berat badan sangat rendah, yakni sekitar 7 kilogram pada usia di atas dua tahun, yang juga disertai kelainan jantung.










