Sri Wahyuni Ingatkan Ancaman Stunting Saat Peringati Hari Posyandu Nasional 2026
Wakil Ketua DPRD Jawa Timur, Sri Wahyuni, mengingatkan pentingnya penguatan Posyandu sebagai garda terdepan pelayanan kesehatan masyarakat untuk menekan angka stunting menuju Indonesia Emas 2045.
DPRD Jatim Tekankan Penguatan Posyandu untuk Cegah Stunting
SURABAYA — Wakil Ketua DPRD Jawa Timur, Sri Wahyuni, mengingatkan pentingnya penguatan layanan Posyandu dalam upaya menekan angka stunting dan meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat menuju program Indonesia Emas 2045.
Menurut politikus Partai Demokrat tersebut, peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) tidak hanya dilakukan melalui sektor pendidikan, tetapi juga harus didukung penguatan layanan kesehatan dasar, khususnya bagi balita dan anak usia sekolah.
Hal itu disampaikan Sri Wahyuni saat memperingati Hari Posyandu Nasional 2026 pada Rabu (29/04/2026).
Ia menilai momentum Hari Posyandu Nasional harus menjadi bahan evaluasi serius terhadap layanan kesehatan berbasis masyarakat agar tidak sekadar menjadi kegiatan seremonial tahunan.
“Posyandu ini ujung tombak. Kalau tidak diperkuat, kita akan kesulitan menekan angka stunting dan masalah kesehatan lainnya,” ujar Sri Wahyuni.
Menurutnya, Posyandu selama ini menjadi garda terdepan dalam deteksi dini berbagai persoalan kesehatan masyarakat, mulai dari stunting, gizi buruk, hingga kesehatan ibu dan anak.
Namun, kondisi di lapangan masih menunjukkan berbagai kendala, seperti keterbatasan fasilitas, kualitas SDM kader Posyandu, hingga minimnya dukungan anggaran operasional.
DPRD Jatim Dorong Integrasi dan Digitalisasi Layanan Posyandu
Sri Wahyuni mendorong Pemerintah Provinsi Jawa Timur bersama pemerintah kabupaten/kota memberikan perhatian lebih serius terhadap penguatan Posyandu.
Ia menekankan pentingnya peningkatan kapasitas kader Posyandu, digitalisasi layanan kesehatan masyarakat, serta dukungan operasional yang memadai.
Selain itu, DPRD Jatim menilai integrasi layanan Posyandu dengan fasilitas kesehatan lain, seperti Puskesmas dan program perlindungan sosial, menjadi kunci agar pelayanan kesehatan masyarakat berjalan lebih komprehensif dan berkelanjutan.
Menurut Sri Wahyuni, tantangan kesehatan masyarakat ke depan akan semakin besar, terutama dalam menghadapi bonus demografi dan target pembangunan SDM menuju Indonesia Emas 2045.
“Momentum Hari Posyandu Nasional ini harus menjadi titik evaluasi bersama. Jangan hanya seremonial, tetapi harus ada langkah konkret,” tegasnya.
Baca Selengkapnya:
-
Dewanti Rumpoko DPRD Jawa Timur Dapil VI Malang Raya dorong pemberian makanan tambahan (PMT) secara masif untuk mengatasi persoalan gizi di daerah
-
Jairi Irawan DPRD Jawa Timur Dapil II Kab. Sidoarjo tekankan pemenuhan gizi ibu dan bayi dalam menjaga momen golden age pertumbuhan anak
-
Bunda Renny dan Fraksi PDIP DPRD Jawa Timur dukung penurunan stunting lewat penggalakan distribusi program gizi
Penanganan Stunting Butuh Kolaborasi Lintas Sektor
Sri Wahyuni juga mengajak masyarakat kembali aktif memanfaatkan layanan Posyandu dan mendukung para kader kesehatan yang selama ini menjadi ujung tombak pelayanan kesehatan di tingkat desa dan kelurahan.
Ia optimistis penguatan Posyandu secara berkelanjutan akan meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat Jawa Timur sekaligus mempercepat penurunan angka stunting.
Menurutnya, keberhasilan penanganan stunting membutuhkan kolaborasi lintas sektor, mulai dari pemerintah daerah, tenaga kesehatan, kader Posyandu, hingga partisipasi aktif masyarakat.
Sri Wahyuni menilai jika layanan kesehatan dasar diperkuat sejak dini, Jawa Timur akan lebih siap menghadapi tantangan bonus demografi dan menciptakan generasi yang sehat, produktif, serta berdaya saing tinggi.
“Penguatan Posyandu harus terus dilakukan agar kualitas kesehatan masyarakat Jawa Timur meningkat signifikan,” ujarnya.










