Lonjakan HIV/AIDS di Sidoarjo, DPRD Jatim Soroti Pergaulan Bebas dan Dampak Penutupan Lokalisasi
Kasus HIV/AIDS di Kabupaten Sidoarjo meningkat menjadi 7.129 kasus hingga April 2026. Anggota Komisi E DPRD Jatim dr. Benjamin Kristianto menyoroti pengaruh media sosial, perubahan pola pergaulan, dan pentingnya penguatan edukasi serta deteksi dini untuk menekan penyebaran HIV/AIDS.
DPRD Jatim Soroti Lonjakan Kasus HIV/AIDS di Sidoarjo
SURABAYA — Meningkatnya angka penderita HIV/AIDS di Kabupaten Sidoarjo mendapat sorotan dari Komisi E DPRD Jawa Timur. Anggota Komisi E DPRD Jatim, dr. Benjamin Kristianto, menilai lonjakan kasus tersebut tidak lepas dari pengaruh media sosial, perkembangan teknologi informasi, serta perubahan pola pergaulan generasi muda.
“Jadi kita tahu bahwa saat ini media, internet, dan media sosial memiliki pengaruh yang luar biasa. Karena itu, tidak heran jika persoalan ini terjadi hampir di semua daerah,” kata Benjamin, Senin (08/06/2026).
Menurutnya, sebagian anak muda kerap meniru gaya hidup yang mereka lihat melalui berbagai platform digital tanpa memahami dampak negatif yang dapat ditimbulkan.
“Bahkan yang dikhawatirkan masih ada budaya anak muda yang meniru apa yang mereka lihat di media. Misalnya kehidupan malam, pergaulan bebas, atau kebiasaan berganti pasangan yang dianggap sebagai simbol modernitas,” ujarnya.
Benjamin menilai pemahaman yang keliru tersebut dapat mendorong perilaku berisiko yang berkontribusi terhadap penyebaran HIV/AIDS dan penyakit menular seksual lainnya.
Media Sosial dan Pergaulan Bebas Dinilai Memperluas Risiko Penularan
Politikus dari Daerah Pemilihan (Dapil) Sidoarjo itu menegaskan bahwa kemudahan berkenalan melalui platform digital membuat interaksi sosial menjadi semakin luas dan sulit dikendalikan.
“Kalau sekarang ini seperti pasar bebas. Mereka bisa berkenalan secara online, melalui TikTok, Facebook, Instagram, maupun platform lainnya. Ditambah keberadaan tempat-tempat hiburan tertentu yang membuat penyebarannya semakin luas sehingga pengawasannya menjadi sulit,” tuturnya.
Ia menilai sebagian besar kasus yang muncul saat ini kemungkinan merupakan kasus lama yang baru terdeteksi melalui proses pemeriksaan kesehatan.
“Sebenarnya bukan berarti kasusnya baru terjadi sekarang. Bisa jadi kasus lama yang baru terdeteksi. Karena pengawasannya sulit, maka ketika dilakukan pemeriksaan ditemukan lebih banyak kasus,” katanya.
Baca Selengkapnya:
-
DPRD Jatim menyoroti lonjakan kasus HIV/AIDS di Jawa Timur dan perlunya langkah pencegahan yang lebih serius
-
DPRD Jatim mendorong kolaborasi lintas sektor untuk memperkuat pencegahan dan penanganan HIV/AIDS
-
DPRD Jatim meminta penguatan edukasi keluarga dan pencegahan HIV sejak usia dini
Deteksi Dini dan Edukasi Jadi Kunci Pencegahan
Benjamin juga menyoroti aspek pengawasan kesehatan masyarakat yang menurutnya perlu diperkuat melalui pemeriksaan atau screening secara berkala.
Ia mengungkapkan bahwa pada masa lalu terdapat sistem pengawasan kesehatan yang lebih terstruktur terhadap kelompok berisiko melalui pemeriksaan rutin.
“Kami pernah melakukan screening secara berkala, termasuk pemeriksaan HIV dan kesehatan reproduksi. Ketika ditemukan kasus, langsung dilakukan penanganan dan terapi,” ungkapnya.
Menurut Benjamin, upaya deteksi dini perlu terus diperkuat agar data yang diperoleh lebih akurat dan pemerintah dapat menyusun kebijakan kesehatan yang tepat sasaran.
Berdasarkan data hingga April 2026, jumlah kasus HIV/AIDS di Kabupaten Sidoarjo mencapai 7.129 orang. Angka tersebut meningkat 215 kasus dibandingkan Desember 2025 yang tercatat sebanyak 6.914 kasus. Kecamatan Porong dan Krian menjadi wilayah dengan jumlah kasus tertinggi di Kabupaten Sidoarjo.
Benjamin berharap pemerintah daerah bersama seluruh pemangku kepentingan dapat memperkuat edukasi kesehatan reproduksi, meningkatkan deteksi dini, serta memperluas akses layanan kesehatan guna menekan laju penyebaran HIV/AIDS di Jawa Timur.










