Much. Abdul Qodir Dorong Penguatan Irigasi Lamongan Hadapi Kekeringan
DPRD Jatim mendorong penguatan jaringan irigasi dan percepatan pengairan lahan pertanian di Lamongan untuk melindungi petani dari risiko gagal panen akibat kekeringan
DPRD Jatim Dorong Penguatan Irigasi Lamongan untuk Tekan Risiko Gagal Panen
SURABAYA — Upaya mengurangi risiko gagal panen akibat kekeringan di Kabupaten Lamongan terus dilakukan melalui penguatan jaringan irigasi dan percepatan pengairan lahan pertanian. Berdasarkan data Kementerian Pertanian per 29 Agustus 2026, sebanyak 3.233 hektare dari total 3.450 hektare lahan padi terdampak kekeringan telah berhasil teraliri air. Sementara itu, 217 hektare masih dalam proses penanganan.
Penanganan tersebut mencakup tujuh kecamatan, dengan langkah utama berupa optimalisasi pompanisasi dan normalisasi saluran irigasi. Sejumlah wilayah telah menyelesaikan penanganan, antara lain Kecamatan Kalitengah, Karang Binangun, Glagah, dan Sukodadi. Adapun lahan yang masih membutuhkan penanganan berada di Kecamatan Deket, Turi, dan Sugio.
Anggota Komisi B DPRD Provinsi Jawa Timur, H. Much. Abdul Qodir, menekankan pentingnya pengawalan pemulihan lahan sekaligus penguatan kesiapsiagaan menghadapi kekeringan.
“Mengawal pemulihan hingga seluruh lahan kembali teraliri, sekaligus perkuat kesiapsiagaan menghadapi kekeringan demi melindungi petani dan menjaga produktivitas pangan Jawa Timur,” ujarnya.
Menurutnya, konektivitas jaringan irigasi dengan waduk, sungai, dan anak Sungai Bengawan Solo perlu dipastikan berjalan baik agar distribusi air lebih optimal. Selain itu, normalisasi dan perbaikan waduk dinilai penting untuk meningkatkan kapasitas tampungan air saat musim hujan sebagai cadangan ketika kemarau.
Penanganan kekeringan juga melibatkan lintas instansi, termasuk Kementerian Pertanian, Kementerian Pekerjaan Umum, BBWS Bengawan Solo, Pemerintah Provinsi Jawa Timur, dan Pemerintah Kabupaten Lamongan.
Hingga 9 September 2026, normalisasi Sungai Deket di kawasan Bengawan Jero telah mencapai 3.335 meter dari target sekitar 4.000 meter. Normalisasi tersebut dilakukan untuk memperlancar aliran air dari Sungai Blawi menuju jaringan irigasi dan areal persawahan. (Antara News)
Upaya penguatan irigasi tersebut menjadi bagian penting dalam menjaga ketersediaan air bagi lahan pertanian sekaligus mengurangi risiko gangguan produksi pangan akibat kekeringan.
Baca selengkapnya: Sri Wahyuni Dorong Ketahanan Pangan Jatim Lewat Panen Raya
Baca selengkapnya: Petani Bojonegoro Terancam Gagal Panen, DPRD Minta Normalisasi Bendung










