Benjamin Dukung Opsi Enam Jalur Flyover Gedangan Sidoarjo
Anggota DPRD Provinsi Jawa Timur dari Dapil Sidoarjo, dr. Benjamin Kristianto, mendukung opsi enam jalur dalam perencanaan Flyover Gedangan. Ia menilai pembangunan infrastruktur harus memperhitungkan kebutuhan lalu lintas jangka panjang sekaligus disinergikan dengan pengembangan jalur kereta api
Dukung Flyover Gedangan Enam Jalur, Benjamin Dorong Infrastruktur Jangka Panjang
SIDOARJO — Rencana pembangunan Flyover (FO) Gedangan terus dimatangkan sebagai salah satu upaya mengatasi persoalan kemacetan di kawasan tersebut. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sidoarjo mengusulkan opsi enam jalur di bawah flyover dengan mempertimbangkan kebutuhan lalu lintas hingga sekitar 30 tahun mendatang.
Anggota DPRD Provinsi Jawa Timur dari Daerah Pemilihan (Dapil) Sidoarjo, dr. Benjamin Kristianto, menyambut baik rencana tersebut. Ia menilai pembangunan infrastruktur transportasi perlu dirancang untuk menjawab kebutuhan masyarakat dalam jangka panjang.
“Sebagai wakil rakyat dari Sidoarjo, saya memberikan dukungan penuh kepada Pemkab Sidoarjo yang berani mengambil opsi enam jalur untuk Flyover Gedangan. Kita tidak boleh merencanakan infrastruktur hanya untuk 5 atau 10 tahun saja,” kata Benjamin, Kamis (24/09/2026).
Menurut Benjamin, posisi Sidoarjo sebagai kawasan penyangga Surabaya membuat mobilitas masyarakat dan kendaraan menjadi salah satu faktor penting yang perlu diperhitungkan dalam perencanaan infrastruktur.
“Perhitungan 30 tahun ke depan adalah langkah taktis yang tepat agar anggaran negara dan daerah benar-benar dirasakan manfaatnya secara berkelanjutan,” ujarnya.
Opsi Enam Jalur Dikaji untuk Kebutuhan 30 Tahun
Usulan enam jalur dibahas Pemkab Sidoarjo bersama sejumlah instansi terkait dalam rapat rencana pembangunan Flyover Gedangan di Ruang Delta Wicaksana Setda Sidoarjo, Selasa (22/09/2026).
Pembahasan melibatkan Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) Wilayah V Jawa Timur-Bali, pihak yang menangani Surabaya Regional Railway Line (SRRL), serta PDAM Surabaya. Dalam forum tersebut, Satuan Kerja Perencanaan dan Pengawasan Jalan Nasional (P2JN) Provinsi Jawa Timur memaparkan penyesuaian Detail Engineering Design (DED) Flyover Gedangan.
Opsi enam jalur yang dimaksud bukan berarti seluruh enam jalur berada di atas flyover. Rancangan yang sedang dibahas adalah enam jalur di sisi bawah flyover, masing-masing tiga jalur untuk arah Surabaya-Sidoarjo dan tiga jalur untuk arah sebaliknya.
Pemkab Sidoarjo memperhitungkan opsi tersebut dapat mengakomodasi kebutuhan lalu lintas hingga sekitar 30 tahun. Sementara opsi empat jalur diperkirakan mencapai titik jenuh lebih cepat. Namun, desain tersebut belum final karena masih membutuhkan kesepahaman dengan pihak terkait, terutama menyangkut kebutuhan lahan milik KAI.
Benjamin Dorong Sinergi Lintas Instansi
Benjamin menekankan pentingnya koordinasi antara pemerintah pusat, Pemkab Sidoarjo, BBPJN, KAI, dan instansi terkait lainnya agar perencanaan Flyover Gedangan dapat diselaraskan dengan pengembangan infrastruktur transportasi di kawasan tersebut.
“Koordinasi lintas instansi harus dikawal ketat. Jangan sampai persoalan teknis kecil menghambat hajat besar masyarakat Sidoarjo yang sudah sangat merindukan jalanan yang lancar, aman, dan bebas macet,” imbuhnya.
Koordinasi tersebut menjadi penting karena kebutuhan lahan untuk Flyover Gedangan bersinggungan dengan rencana pengembangan infrastruktur perkeretaapian. P2JN Jatim menyatakan penyelesaian DED masih memerlukan kesepahaman dengan KAI sebagai pemilik lahan yang juga berkaitan dengan pengembangan SRRL.
Karena itu, Benjamin berharap sinkronisasi proyek dapat dilakukan sejak tahap perencanaan agar kebutuhan jalan dan perkeretaapian dapat diperhitungkan secara bersamaan.
Infrastruktur Jangka Panjang Didorong Beri Manfaat Ekonomi
Benjamin menilai pembangunan infrastruktur transportasi tidak hanya berkaitan dengan upaya mengurai kemacetan. Konektivitas yang lebih baik juga dapat mendukung mobilitas masyarakat dan aktivitas perekonomian.
Perhatian terhadap pentingnya infrastruktur sebagai penunjang ekonomi sebelumnya juga disampaikan anggota DPRD Jatim Achmad Iskandar. Dalam konteks investasi di Madura, ia mendorong kesiapan infrastruktur, regulasi, dan sinergi lintas sektor agar investasi dapat memberikan dampak terhadap lapangan kerja dan perekonomian masyarakat.
Baca selengkapnya: Kawal Investasi Dubai-Tiongkok di Madura, Achmad Iskandar Dorong Dukungan Regulasi dan Infrastruktur
Dorongan terhadap pembangunan yang berorientasi jangka panjang juga pernah disampaikan Heri Romadhon dalam konteks infrastruktur air bersih. Ia menilai persoalan berulang membutuhkan pembangunan infrastruktur permanen, bukan hanya penanganan darurat.
Baca selengkapnya: Kemarau Panjang Landa Blitar, Heri Romadhon Dorong Infrastruktur Air Permanen
Anggaran Infrastruktur Perlu Berorientasi Manfaat
Pembangunan infrastruktur juga menjadi salah satu perhatian dalam pembahasan Perubahan APBD Jawa Timur 2026. Fraksi PKS DPRD Jatim sebelumnya mengingatkan agar tambahan belanja modal diarahkan pada program yang memberikan dampak langsung terhadap pelayanan publik, konektivitas antarwilayah, pertumbuhan ekonomi, penciptaan lapangan kerja, dan kesejahteraan masyarakat.
Baca selengkapnya: Fraksi PKS Setujui P-APBD Jatim 2026, Soroti Belanja, SiLPA, dan Pemerataan Infrastruktur
Benjamin berharap proses pematangan Flyover Gedangan dapat segera menghasilkan kesepahaman antarpihak sehingga tahapan pembangunan dapat dilanjutkan sesuai perencanaan dan ketentuan yang berlaku.
Bagi Benjamin, pembangunan Flyover Gedangan perlu ditempatkan sebagai investasi infrastruktur jangka panjang agar manfaatnya tidak hanya menjawab kebutuhan lalu lintas saat ini, tetapi juga perkembangan mobilitas Sidoarjo pada masa mendatang.
(Yudhie)










