Gen Z Masih Banyak Nganggur, Sistem Pendidikan Layak Diperbaiki
Pemerintah kota (Pemkot) Surabaya diminta membuat sebuah inovasi untuk mengurangi angka pengangguran di Indonesia salah satunya di Surabaya. Anggota DPRD Jawa Timur Jordan Batara Goa mengatakan selama turun di masyarakat, masih banyak yang mengeluh akan kekurangan pekerjaan di Surabaya.
Pemerintah kota (Pemkot) Surabaya diminta membuat sebuah inovasi untuk mengurangi angka pengangguran di Indonesia salah satunya
di Surabaya. Anggota DPRD Jawa Timur Jordan Batara Goa mengatakan selama turun di masyarakat, masih banyak yang mengeluh akan kekurangan
pekerjaan di Surabaya.
"Ini tentunya menjadi pekerjaan rumah dari Pemkot untuk mengentas pengangguran di Surabaya," jelas politisi PDI Perjuangan ini, selasa (21/5/2024).
Selain membuka lapangan kerja, sambung Jordan, perlu ada perbaikan sistem pendidikan yang ada di Jawa Timur. " Perlu ada perbaikan untuk
menyesuaikan kebutuhan skil di masyarakat. Harus ada perbaikan sistem pendidikan di SMK dan SMA dengan memberikan wawasan yang luas kepada
siswa akan kebutuhan tenaga kerja yang ada di Indonesia, " terangnya.
Jordan lalu memberi contoh perlu ada perbaikan balai latihan kerja (BLK) yang ada di Jawa Timur mengingat sekarang ini peralatan untuk
keahlian tenaga kerja sudah usang. " Perlu perbaikan untuk melatih tenaga terampil agar menghasilkan kualitas tenaga kerja yang maksimal," katanya.
Menurutnya, dengan melakukan inovasi terhadap pembukaan lapangan kerja diharapkan salah satu permasalahan sosial di Surabaya bisa teratasi. "
Masalah kemiskinan hingga pengangguran tentunya bisa ditekan turun dengan upaya tersebut. Kami yang ada di DPRD Jawa Timur akan selalu
support bagi daerah, "jelasnya.
Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) menyebut ada sejumlah faktor yang membuat banyak anak muda alias Gen Z menganggur.
Salah satu faktornya adalah salah memilih sekolah dan jurusan.
Deputi Bidang Kependudukan dan Ketenagakerjaan Bappenas, Maliki berkata rata-rata waktu yang dibutuhkan seseorang yang baru lulus
untuk mencari kerja adalah 6 bulan. Ketika seseorang salah memilih jurusan, kata dia, maka masa tunggu hingga mendapatkan pekerjaan akan
semakin lama hingga 1 tahun.
Faktor salah jurusan inilah, kata dia, yang menjadi banyak anak muda Indonesia masuk golongan pengangguran tanpa kegiatan atau youth not in
education, employment, and training (NEET).










