Benjamin Kristianto Minta Hormati Kebebasan Beragama dan Beribadah
Dugaan larangan ibadah umat Kristiani di Rumah Doa Gereja Pantekosta di Indonesia (GPdi) Desa Mergosari, Kecamatan Tarik, Sidoarjo memantik simpati Anggota DPRD Jawa Timur dr Benjamin Kristianto MARS untuk mencari solusi. Benjamin mendatangi kantor Kepala Desa Mergosar, Eko Budi Santoso.
Dugaan larangan ibadah umat Kristiani di Rumah Doa Gereja Pantekosta di Indonesia (GPdi) Desa Mergosari, Kecamatan Tarik, Sidoarjo memantik simpati Anggota DPRD Jawa Timur dr Benjamin Kristianto MARS untuk mencari solusi. Benjamin mendatangi kantor Kepala Desa Mergosar, Eko Budi Santoso.
Kedatangan Benjamin ke kantor Desa Mergosari untuk komunikasi dengan Kades Eko Budi Santoso. Dalam kesempatan itu, Benjamin agar kebebasan dalam beragama agar dihormati setiap manusia.
Benjamin Kristianto MARS meminta setiap individu agar kebebasan dalam beragama dihormati. Masyarakat harus tetap menjaga persatuan untuk mengembangkan negara Indonesia, dimulai dari desa-desa.
"Jaga persatuan, demi mengembangkan negara, dengan dimulai desa masing-masing. Mulai dari provinsi," pintanya, Rabu 10 Juli 2024.
Benyamin berharap masyarakat tidak mudah diadu domba. Mengingat masyarakat harus diberi kebebasan dalam beribadah sesuai kepercayaan dan agamanya masing-masing.
"Asalkan agama tersebut diresmikan dan diakui oleh pemerintah," pungkasnya.
Jemaat Rumah Doa Gereja Pantekosta di Indonesia (GPdi), Desa Mergosari, Kecamatan Tarik, Sidoarjo masih belum bisa menggelar ibadah di Hari Minggu. Mengingat Kepala Desa Mergosari, Eko Budi Santoso belum mengizinkannya.
Eko menegaskan, sesuai kesepakatan bersama dan atensi Plt Bupati Sidoarjo, Subandi, bahwa Rumah Doa GPdi diperbolehkan menggelar ibadah kalau sudah keluar Izin Mendirikan Bangunan (IMB). Ia akan berkoordinasi dengan pihak terkait dalam proses penerbitan IMB.
"Untuk sementara jemaat bisa ibadah di rumah dulu," ujarnya, usai melakukan dialog dengan Kades Mergosari.
Eko menyampaikan, pasca viralnya video dugaan larangan ibadah umat Nasrani di desanya, dirinya tetap menjaga toleransi dan siap membantu masyarakat tanpa memandang agama.
"Kita tetap menjaga netral dan siap membantu siapapun tanpa pandang bulu," ucapnya.
Seperti diketahui, sebelumnya beredar video yang viral sekolompok umat Nasrani yang melakukan protes kepada seorang Kepala desa (Kades) di Sidoarjo. Warga krisitiani tersebut diduga dilarang beribadah di GPDI Tarik Sidoarjo karena tak mengantongi izin dari Kepala Desa Mergosari, Kecamatan Tarik, Sidoarjo.
Dalam video yang diunggah aktivis @permadiaktivis2 (30/6) diakun pribadinya tersebut, terlihat jemaat GPDI Tarik yang mengenakan baju batik merah mempertanyakan ketentuan izin sebelum melakukan ibadah ke Kades Mergosari. Jemaat mengaku hanya sebatas ingin ibadah dan tidak membuat kerusuhan di Desa tersebut.
"Kita tidak bikin kerusuhan pak, ya mohon maaf pengertiannya," ujar salah satu jemaat dalam video tersebut.
Warga kristiani itu menyebut jemaat bisa berasal dari berbagai tempat karena jumlahnya sedikit. Ia pun meminta pengertian dari kades karena jemaat hanya sebatas ibadah kepada tuhan
"Kita memang dari mana-mana tempat, karena memang kita minoritas, kita sedikit, gitu lo, jadi tolong pengertiannya," pinta perempuan tersebut.
Menanggapi perempuan tersebut, Kades Mergosari meminta agar warga Nasrani untuk mengurus izin terlebih dahulu. Mengingat setiap kegiatan warga harus izin dulu.
"Setiap melakukan kegiatan, ini ada Pak RW, Pak RT, nggih, setiap warga melakukan kegiatan, harus ada izin dari lingkungan, udah itu titik," tegas Kades.
Warga Kristiani pun langsung berbalik bertanya. "Kegiatan apa dulu pak?," tanyanya.
"Semuanya," jawab kades.
Seorang jemaat meminta kegiatannya tidak disamakan dengan pagelaran jaran kepang. Ia mempertanyakan batasan yang harus ditaatinya karena kegiatan ibadahnya hanya Hari Minggu saja.
"Kita ini ibadah, bukan kegiatan pak, ojok dipadakno ambek jaran kepang (jangan disamakan dengan jaran kepang)," bantah umat Kristiani. "Sebentar, yang dibatasi itu yang seperti apa pak? Kami hanya minggu saja lo kegiatannya," ucap seorang warga Kristiani lainnya.
Meski dicecar banyak pertanyaan dari umat Nasrani, sang kades tetap meminta warga Kristen untuk meminta izin dalam melakukan ibadah. "Mpun, mpun, wis wis wis wis (sudah sudah)," tutupnya.










