Legislator asal Gerindra ini Minta Pemerintah Membuat Pukesmas Plus
Meningkatnya jumlah penderita HIV/AIDS (ODHA) harus segera diantisipasi oleh pemerintah setempat. Salah satunya adalah membuat Pukesmas plus yakni pelayanan pemeriksaan di tingkat RW.
Meningkatnya jumlah penderita HIV/AIDS (ODHA) harus segera diantisipasi oleh pemerintah setempat. Salah satunya adalah membuat Pukesmas plus yakni pelayanan pemeriksaan di tingkat RW.
Anggota Komisi E DPRD Jawa Timur, Cahyo Harjo Prakoso menegaskan, HIV/AIDS harus diwaspadai dan segera diantisipasi karena penyakit tersebut bisa menular. Maka, untuk mewujudkan bangsa yang besar, fokus utamanya adalah membangun Sumber Daya Manusia (SDM) yang sehat, kuat, dan cerdas.
Cahyo optimis Indonesia bisa menjadi bangsa yang maju, dan sejahtera, kalau SDM-nya sehat dan cerdas
"Karena sebagai bangsa yang besar fokus utamanya adalah membangun SDM yang sehat, kuat dan cerdas. Sehingga bisa menjadikan bangsa yang maju dan sejahtera," ujar Cahyo, dikonfirmasi, Jumat 25 Oktober 2024.
Politisi asal Partai Gerindra itu menegaskan, salah satu upaya mewujudkan bangsa yang sehat, pemerintah haruskan memberikan gerakan pro aktif cek kesehatan kepada seluruh masyarakat. Khususnya bagi generasi muda.
" Ini untuk mengetahui bagaimana kondisi kesehatan masing-masing orang. Karena HIV tidak bisa diketahui sebelum ada gejala. Baru ada gejala bisa diketahui penyakitnya," katanya.
Ketua DPC Partai Gerindra Surabaya itu berharap pemerintah segera hadir dan pro aktif melalui gerakan pukesmas plus, yakni pemeriksaan dan pengobatan di balai RW. Begitu juga di pedesaan, Posyandu plus bisa dijalankan untuk membantu Pukesmas - pukesmas.
"Mungkin bisa digerakkan lewat kantor desa atau kelurahan yang ada di Jatim. Bisa lewat pukesmas plus atau posyandu plus untuk membantu pukesmas karena keterbatasan infrastruktur Pukesmas," ucapnya.
Cahyo menyebut Pukesmas atau Posyandu plus bisa menjadi tempat masyarakat yang tidak mampu untuk cek kesehatan secara gratis. Dengan begitu, perkembangan atau hadirnya HIV bisa ditekan dari pemerintah.
Petugas kesehatan tentunya akan mengetahui sejak dini terhadap gejala atau penyakit yang hinggap di tubuh seseorang. Pengobatan akan segara dilakukan, jika sudah diketahui penyakit yang diderita seseorang.
Untuk diketahui, mengutip jawapos.com,
Januari hingga 21 Oktober 2024 penderita HIV/AIDS (ODHA) yang berobat ke Rumah Sakit Universitas Airlangga (RSUA) mencapai 243 kasus. Mereka menjadi pasien aktif dengan antiretroviral therapy (ART).
Direktur RSUA Prof dr Nasronudin SpPD (K) FINASIM-KPTI mengatakan, kasus HIV yang ditangani RSUA mengalami tren peningkatan yang disebabkan beberapa faktor. Salah satunya jumlah kasus riil memang meningkat.
Selain itu, juga disebabkan pasien yang awalnya ragu, kini memberanikan berobat atau terapi ke rumah sakit.
Nasronudin mencatat eari 243 kasus ODHA yang ditangani RSUA, didominasi generasi muda atau usia produktif. Diduga mereka terpapar karena pengaruh heteroseksual.
Selain anak muda, ada pula kasus anak dengan HIV/AIDS (ADHA). Rata-rata bayi tertular dari ibunya. Penularannya bisa terjadi saat bayi masih di dalam kandungan, ketika proses persalinan, atau saat menyusui.
”Ibunya yang positif tidak meminum antiretroviral (ARV)










