Komisi E Minta Pengawasan Ketat Terhadap PMI Jatim
Penembakan lima orang Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Jawa Timur yang diduga non prosedural oleh Agensi Penguatkuasaan Maritim Malaysia (APMM) harus dijadikan pembelajaran agar tidak terulang kembali.
Penembakan lima orang Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Jawa Timur yang diduga non prosedural oleh Agensi Penguatkuasaan Maritim Malaysia (APMM) harus dijadikan pembelajaran agar tidak terulang kembali.
Anggota Komisi E DPRD Jawa Timur, Suwandy Firdaus mengaku sangat kecewa dengan sikap APMM yang menembak PMI Jatim. Meskipun dianggap Malaysia PMI ilegal, bukan berarti termasuk tindak pidana. Berbeda halnya PMI tersebut melakukan pencurian, atau berbuat tindakan yang dapat membahayakan Negara Malaysia, pekerja migran tersebut bisa ditembak.
"Kami juga sebagai aktivis pekerja buruh di Jawa Timur merasa prihatin dan ikut belasungkawa karena perbuatan yang dilakukan oleh polisi di Malaysia," ujar Suwandy, dikonfirmasi Selasa 4 Februari 2025.
Politisi asal NasDem itu menyebut, Malaysia merupakan negara bersahabat dengan Indonesia. Namun, arogansi APMM dengan menembak PMI di tempat membuat masyarakat Indonesia sangat kecewa.
"Jangan sampai terulang kembali, karena di Jawa Timur banyak pekerja-pekerja PMI. Tentunya hubungan kedua negara ini harus baik, jangan sampai arogan seperti itu gitu," pintanya.
Suwandy meminta ada evaluasi tentang kebijakan-kebijakan yang ada di PJTKI, Kementerian Luar Negeri. Pihaknya juga berharap agar ada pengawasan ketat untuk PMI asal Jawa Timur yang akan dikirim ke Malaysia.
"Kami kecam peristiwa penembakan tersebut. Masak menghadapi PMI ilegal ditembaki layaknya teroris, "tegasnya.
Terkat Perda Jatim soal Perlindungan PMI, Suwandy mengaku saat ini sedang disosialisasikan karena sudah ada Undang-undang dan pergubnya.
Politisi asal Dapil Mojokerto dan Jombang itu menyebut perlunya regulasi yang mengatur semua pihak, baik pemerintah dan swasta terkait keberadaan PMI asal Jawa Timur.
Dengan pengawasan ketat, Suwandy optimis bisa mengurangi jumlah pekerja ilegal asal Jawa Timur untuk bekerja di luar negeri.
" Dengan bekerja sama dengan PJTKI untuk melakukan pengawasan PMI tersebut termasuk dengan melibatkan pihak imigrasi, "tuturnya.
Suwandy juga berharap adanya pelibatan semua pihak untuk mengurangi jumlah pengangguran. Mengingat saat ini jumly pengangguran meningkat.
"Meningkatnya pengangguran tentunya membuat masyarakat mau tidak mau harus berangkat PMI ke keluar negeri," ucapnya.
Suwandy menginginkan adanya kerjasama yang baik sehingga tidak terjadi korban lagi. Mengingat kebanyakan sekarang ini, PMI banyak dari Indonesia. Khususnya dari wilayah Jawa.
"Jadi mohon untuk juga Dinas Tenaga Kerja, PJTKI, untuk bisa membuat situasi ini lebih baik hubungan kita ini dengan Malaysia," harapnya.
Untuk diketahui, insiden penembakan terhadap lima PMI non-prosedural oleh APMM terjadi pada Jumat (24/1) pukul 03.00 dini hari waktu Malaysia. Insiden penembakan tersebut mengakibatkan seorang pekerja migran meninggal dunia, satu lainnya dalam kondisi kritis, dan tiga orang dirawat di beberapa rumah sakit di Selangor, Malaysia.
Para pekerja migran ini diduga sedang berusaha untuk keluar dari Malaysia dengan cara ilegal.Sementara timah panas terpaksa dilepaskan karena menurut laporan dari APMM, telah terjadi penyerangan yang dilakukan oleh para WNI.
Namun sebaliknya, dalam keterangan yang diungkap di laman resmi Kementerian Luar Negeri, para WNI ini membantah telah melakukan perlawanan dengan senjata tajam kepada aparat APMM.Dalam rilis dari Kementerian, korban akan diberi perlindungan hukum agar hak-hak yang dimiliki terpenuhi.
Selain itu pemerintah Indonesia juga akan membiayai perawatan rumah sakit sampai sembuh. Dari segi hukum, Kemlu mendorong otoritas Malaysia untuk melakukan investigasi menyeluruh.










