gerbang baru nusantara

DR Rasiyo : “UN Itu untuk Mengukur Kemampuan dan Prestasi Anak”

Pemberlakuan Ujian Nasional (UN) kembali akan dimulai 2026. Hal ini sudah disampiakan oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. Keputusan Kemendikdasmen ini sekaligus mengakhiri penghentian Ujian Nasional yang dilakukan mantan Mendikbud Nadiem Makarim sejak 2021 yang dinilai sebagai bagian dari transformasi sistem pendidikan di Indonesia.

Norah Hasanah
Jumat, 31 Januari 2025
Bagikan img img img img
Anggota Komisi E DPRD Jatim dari partai Demokrat Dr H Rasiyo MSi.

Pemberlakuan Ujian Nasional (UN) kembali akan dimulai 2026. Hal ini sudah disampiakan oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. Keputusan Kemendikdasmen ini sekaligus mengakhiri penghentian Ujian Nasional yang dilakukan mantan Mendikbud Nadiem Makarim sejak 2021 yang dinilai sebagai bagian dari transformasi sistem pendidikan di Indonesia.. Rencana pengembalian Ujian Nasional ini otomatis memicu diskusi panjang di kalangan pendidik, pakar pendidikan, dan juga masyarakat umum.

Gogot Suharwoto  yang saat  ini menjabat Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah (Dirjen PAUD Dikdasmen) mengatakan bahwa konsep UN yang baru ini telah dirancang sedemikian rupa yang diharapkan  lebih aplikatif dan  relevan dengan kebutuhan pendidikan di  masa masa mendatang.

Namun tujuan utama dari rencana ini adalah meningkatkan standar mutu pendidikan secara nasional serta memberikan gambaran yang komprehensif tentang kompetensi siswa. Tetapi tetap diharapkan, pelaksanaan UN nanti tidak akan mengulang kesalahan dan harus sanggup mengevaluasi sistem pendidikan secara menyeluruh, bukan cuma jadi alat ukur individu.

Proses pembelajaran, ketersediaan anggaran, serta infrastruktur pendukung harus jadi bagian dari evaluasi. UN diharapkan harus mampu mendorong untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, bukan hanya menjadi sumber tekanan siswa dan juga guru.

“Pemberlakuan UN kembali juga saya kira baik, karena untuk mengukur standarisasi kemampuan anak. Kan ada standart yang diberlakukan, misalkan ingin mendaftar agar diterima.Misalkan mau daftar Akabri ada standart tinggi badan dan starndart tertentu lainnya. Kalau nggak mencapai standart ya nggak bisa.Tapi kan sekolah, kalau SMP-SMA tidak mengukur tinggi badan dan lain-lain. Ini contohnya. Kalau SMP yang diukur kan kemampuannya. Sehingga dengan kemampuan yang diukur itu, perhatian murid lebih serius, sungguh-sungguh” kata anggota Komisi E DPRD Jatim dari partai Demokrat Dr H Rasiyo MSi.

Pria yang pernah menjabat Kadisnas Provinsi Provinsi Jatim  juga mengatakan ada nilai positif terkait pemberlakuan UN kembali. Yakni selain keseriusan anak untuk belajar lebih giat lagi, anak jadi mentradisikan kebiasaan untuk sinau (belajar) secara rutin kembali untuk mempersipakannya.

” Pada saat saya menjadi Kepala Diknas itu dulu di banyak orang-orang-orang tertentu nggak semua orang tidak setuju itu karena katanya dibantu oleh gurunya, pengawas sekolahnya ya sekarang diketati itu karena itu sudah bukan sistemnya. Ujian Nasional kan mengukur prestasi.” jelas politisi Demokrat ini.

“Untuk membantu program pembelajaran tambahan siswa yang mau menghadapi UN, ya memang harus belajar lebih serius . Kalau misalkan para guru punya inisiatif untuk memberikan bimbingan mandiri di sekolah .Misalkan ekstra waktu di sekolah bagus Saya  kebetulan juga punya sekolah, guru-gurunya berinisiatif menambah pelajaran sendiri di luar jam pembelajaran misalkan jam pulang jam 2, setelah jam 2, tambah supaya tidak memberatkan para murid .Karena  bagaimanapun  lembaga kursus  harganya memang lebih tinggi daripada yang diberikan guru ” jelas mantan Sekdaprov Jatim ini.

Ditambahkannya, pada beberapa kasus, anak anak sulit belajar karena pengaruh HP. Sekarang ya kurikulum Merdeka itu mesti lulus, mesti naik kelas, tapi beli sekolah anaknya, kan juga repot.  Pembelajaran lebih kurikulum merdeka tergantung gurunya. Kreativitas gurunya yang menentukan, Tapi sebenarnya pengaruhnya kepada anak murid kan juga positif. Walaupun  Ini belum berjalan maksimal , sudah mau diganti lagi.

Masih menurut Dr H Rasiyo MSi, pelaksanaan UN kembali tidak hanya jadi memicu anak untuk belajar. Tapi  mendorong wali murid itu sungguh-sungguh mengawasi anaknya. Tentu ujian nasional yang ini tidak seperti dulu. .  Walaupun hasil UN nantinya tidak  menjadi satu-satunya yang menentukan untuk lulus., karena ada faktor-faktor lain  yang juga menentukan,  termasuk nilai raport siswa yang bersangkutan.
 

Berita Terkait

Berita Terkait

Agenda DPRD Provinsi Jawa Timur

Agenda DPRD Provinsi Jawa Timur

Index Menu

Index Menu