gerbang baru nusantara

Santri di Gresik Bunuh Diri, DPRD Jatim Ingatkan Pentingnya Kesehatan Mental Anak

Anggota DPRD Jawa Timur Dapil XIII Lamongan-Gresik Ahmad Iwan Zunaih menilai kasus santri meninggal di Gresik menjadi alarm serius terkait kesehatan mental anak dan remaja.

Gegeh Bagus S
Kamis, 07 Mei 2026
Bagikan img img img img
Anggota DPRD Jawa Timur Dapil XIII Lamongan-Gresik Ahmad Iwan Zunaih mengingatkan pentingnya perhatian terhadap kesehatan mental anak dan remaja usai kasus santri meninggal di Gresik.

DPRD Jatim Sampaikan Keprihatinan atas Meninggalnya Santri di Gresik

GRESIK — Seorang santri di salah satu pondok pesantren di Kecamatan Kedamean, Kabupaten Gresik, Jawa Timur, ditemukan meninggal dunia di area belakang pondok pesantren pada Rabu (6/5/2026).

Korban diketahui berinisial RAS (15), warga Tambaksari, Surabaya. Berdasarkan informasi yang beredar, korban diduga mengalami tekanan psikis setelah mendapat teguran dari pengasuh pondok.

Menanggapi peristiwa tersebut, Anggota DPRD Jawa Timur dari daerah pemilihan Gresik-Lamongan, Ahmad Iwan Zunaih atau yang akrab disapa Gus Iwan, menyampaikan keprihatinan mendalam sekaligus belasungkawa kepada keluarga korban.

“Saya secara pribadi menyampaikan keprihatinan yang luar biasa serta turut berbela sungkawa. Kasus bunuh diri seorang anak akhir-akhir ini telah banyak kita dengarkan,” ujar Gus Iwan, Kamis (7/5/2026).

Menurutnya, peristiwa tersebut menjadi alarm serius terkait persoalan kesehatan mental anak dan remaja yang semakin memprihatinkan.

Tekanan Mental Anak Dinilai Semakin Kompleks

Politikus Partai NasDem itu menilai tindakan bunuh diri tidak terjadi secara tiba-tiba, melainkan merupakan akumulasi dari berbagai tekanan mental dan psikis yang tidak mampu dikendalikan oleh seseorang.

“Di balik kabar bunuh diri anak sebenarnya ada isu besar yang patut kita perhatikan, yaitu kesehatan mental yang serius dan semakin memprihatinkan pada anak-anak sekarang,” katanya.

Gus Iwan menyebut tekanan akademik, persoalan keluarga, hingga perundungan (bullying) menjadi beberapa faktor yang kerap memengaruhi kondisi psikologis anak.

Karena itu, ia meminta orang tua maupun tenaga pendidik lebih memperhatikan pola komunikasi dan hubungan emosional dengan anak.

“Perlu ada kehangatan hubungan dan rasa keterbukaan agar mental dan psikis anak menjadi lebih kuat,” ungkapnya.

Baca Selengkapnya: DPRD Jatim mendorong kolaborasi lintas sektor untuk memperkuat perlindungan anak dari kekerasan fisik, psikis, dan ancaman digital di era disrupsi

Pendidikan Karakter dan Pengawasan Digital Harus Diperkuat

Selain itu, Gus Iwan juga menekankan pentingnya penguatan nilai keagamaan dan keimanan dalam proses pendidikan anak.

Menurutnya, pendidikan saat ini sering kali hanya berfokus pada aspek akademik, sementara pembentukan karakter dan spiritualitas kurang mendapat perhatian.

“Keimanan merupakan pondasi utama untuk membentuk pribadi yang tangguh agar anak tidak mudah terombang-ambing oleh perkembangan zaman,” tegasnya.

Baca Selengkapnya:

Pentingnya Dukungan dan Pendampingan Anak

Gus Iwan berharap seluruh pihak, baik keluarga, sekolah, pesantren, maupun masyarakat, dapat bersama-sama memberikan perhatian lebih terhadap kondisi mental anak dan remaja.

Ia menilai pendampingan emosional, komunikasi yang terbuka, serta lingkungan pendidikan yang sehat menjadi faktor penting untuk mencegah munculnya tekanan psikologis pada anak.

 

Informasi dalam artikel ini tidak dimaksudkan untuk mendorong atau menginspirasi siapa pun melakukan tindakan serupa. Jika Anda mengalami tekanan emosional, depresi, atau memiliki kecenderungan untuk menyakiti diri sendiri maupun pikiran bunuh diri, segera cari bantuan profesional melalui psikolog, psikiater, layanan kesehatan mental, atau orang terdekat yang dapat dipercaya. Jangan hadapi masalah sendirian.

Berita Terkait

Berita Terkait

Agenda DPRD Provinsi Jawa Timur

Agenda DPRD Provinsi Jawa Timur

Index Menu

Index Menu