Sri Wahyuni Dorong Emak-Emak Bojonegoro Pilah Sampah dari Rumah
Wakil Ketua DPRD Jatim Sri Wahyuni mengajak perempuan di Bojonegoro memulai pemilahan sampah organik dan anorganik dari rumah agar pengelolaan lingkungan sekaligus dapat menciptakan nilai ekonomi.
Sri Wahyuni Ajak Perempuan Bojonegoro Ubah Sampah Jadi Bernilai Ekonomi
SURABAYA — Wakil Ketua DPRD Provinsi Jawa Timur Sri Wahyuni mendorong pengelolaan sampah dimulai dari rumah tangga dengan melibatkan perempuan sebagai salah satu penggerak utama.
Pemilahan sampah organik dan anorganik sejak dari sumber dinilai dapat membantu mengurangi beban pengelolaan sampah sekaligus membuka peluang pemanfaatan material yang masih memiliki nilai ekonomi.
Dorongan tersebut disampaikan Sri Wahyuni dalam konteks pemberdayaan masyarakat di daerah pemilihannya, Bojonegoro–Tuban.
“Ibu-ibu adalah manajer utama di dalam rumah tangga. Jika pengelolaan sampah dimulai dari tingkat keluarga dengan pemilahan yang benar antara organik dan anorganik, maka masalah lingkungan bisa teratasi sekaligus mendatangkan pemasukan tambahan atau cuan,” ujar Sri Wahyuni, Sabtu (26/09/2026).
Pemilahan Sampah Dimulai dari Rumah
Sri Wahyuni menilai rumah tangga memiliki posisi penting dalam rantai pengelolaan sampah. Berbagai jenis sampah, mulai plastik, botol, kardus hingga sisa organik, dapat dipilah sejak awal agar lebih mudah ditangani sesuai karakteristiknya.
Menurutnya, sampah anorganik yang masih memiliki nilai jual dapat disalurkan melalui bank sampah maupun kegiatan daur ulang. Sementara sampah organik dapat dikelola secara terpisah sesuai fasilitas dan kemampuan masyarakat.
Pendekatan tersebut dinilai lebih produktif dibandingkan mencampurkan seluruh sampah sebelum dibuang.
Sri Wahyuni juga mendorong masyarakat menghindari pembakaran sampah sembarangan dan memilih cara pengelolaan yang lebih aman bagi lingkungan.
Bank Sampah Dinilai Bisa Buka Nilai Ekonomi
Sri Wahyuni mengapresiasi inisiatif pengelolaan sampah berbasis masyarakat, termasuk bank sampah, TPS3R, serta kegiatan kelompok perempuan yang memanfaatkan material bekas.
Menurutnya, pengelolaan sampah tidak harus berhenti pada upaya menjaga kebersihan. Material yang masih dapat digunakan atau didaur ulang berpeluang memberikan nilai tambah apabila dikelola secara konsisten.
Model tersebut juga membuka ruang pemberdayaan perempuan melalui kegiatan produktif berbasis lingkungan.
“Perempuan Bojonegoro harus tangguh, kreatif, dan inovatif. Dengan menjadikan sampah sebagai cuan, kita tidak hanya menyelamatkan bumi Jawa Timur dari kerusakan, tetapi juga ikut menggerakkan roda perekonomian keluarga dari rumah,” katanya.
Dalam konteks pemberitaan ini, istilah “cuan” merujuk pada potensi pendapatan tambahan dari sampah yang masih memiliki nilai jual atau dapat diolah menjadi produk bernilai. Besarnya manfaat ekonomi tentu bergantung pada jenis material, volume, harga, akses pasar, dan sistem pengelolaan yang tersedia.
Pengelolaan Sampah dan Pemberdayaan Perempuan Didorong Berjalan Bersama
Sri Wahyuni berharap perempuan tidak hanya ditempatkan sebagai pelaksana pengelolaan sampah rumah tangga, tetapi juga memperoleh akses terhadap pelatihan, sarana, jejaring, dan peluang ekonomi dari kegiatan tersebut.
Pemberdayaan dinilai penting agar kegiatan pemilahan dan daur ulang dapat berkembang menjadi aktivitas yang berkelanjutan, bukan sekadar kegiatan sesaat.
Dorongan Sri Wahyuni terhadap pengurangan sampah juga konsisten dengan pernyataannya pada Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026. Saat itu, ia mengajak masyarakat melakukan aksi konkret, antara lain dengan mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, memilah sampah dari rumah, dan mendukung pengelolaan lingkungan berkelanjutan.
Potensi Ekonomi Sampah Juga Disorot DPRD Jatim
Pemanfaatan sampah menjadi material bernilai sebelumnya juga mendapat perhatian sejumlah anggota DPRD Jatim.
Anggota DPRD Jatim Aufa Zhafiri, misalnya, memperjuangkan bantuan mesin pemilah sampah bagi warga Desa Mojorejo, Kota Batu. Keterbatasan sarana dinilai menghambat pemisahan sampah organik, anorganik, dan material yang masih memiliki nilai daur ulang.
Baca selengkapnya: Reses di Kota Batu, Aufa Zhafiri Perjuangkan Bantuan Mesin Pemilah Sampah untuk Desa Mojorejo
Komisi B DPRD Jatim juga pernah mendorong penguatan industri daur ulang plastik. Selain mengurangi timbulan sampah, pengembangan daur ulang dinilai berpotensi menghasilkan bahan baku kembali dan menciptakan nilai ekonomi.
Baca selengkapnya: Komisi B DPRD Jatim Usulkan Penguatan Daur Ulang Plastik untuk Stabilitas Harga
Perhatian terhadap daur ulang juga telah disampaikan DPRD Jatim dalam kunjungan ke industri pengolahan sampah plastik di Jombang. DPRD ketika itu menekankan pentingnya pengelolaan sampah dari hulu, termasuk edukasi kepada masyarakat dan pengurangan sampah sejak dari rumah tangga.
Baca selengkapnya: Daur Ulang Sampah Plastik, Upaya Pengurangan Sampah Jatim!
Sri Wahyuni berharap pemilahan sampah dari rumah dapat berkembang menjadi kebiasaan masyarakat. Dengan pengelolaan yang tepat dan dukungan ekosistem yang memadai, sampah yang masih bernilai dapat dimanfaatkan kembali sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat.
(Yudhie)










