gerbang baru nusantara

Atika Banowati Dorong Infrastruktur Air Permanen di Ngawi

Atika Banowati meminta pemerintah memperkuat pasokan air bersih bagi 4.403 warga terdampak kekeringan di Ngawi sekaligus menyiapkan sumur bor dan jaringan perpipaan sebagai solusi jangka panjang.

Try Wahyudi
Sabtu, 10 Oktober 2026
Bagikan img img img img
Anggota Komisi D DPRD Provinsi Jawa Timur Atika Banowati mendorong pembangunan infrastruktur air bersih untuk mengatasi kekeringan yang melanda sejumlah desa di Kabupaten Ngawi.

SURABAYA — Ketergantungan warga Kabupaten Ngawi terhadap pasokan air bersih melalui truk tangki menjadi perhatian Anggota Komisi D DPRD Provinsi Jawa Timur Atika Banowati. Ia meminta pemerintah tidak hanya mengandalkan bantuan darurat, tetapi juga menyiapkan infrastruktur air yang mampu memenuhi kebutuhan masyarakat secara berkelanjutan.

Desakan tersebut disampaikan menyusul laporan kekeringan yang berdampak pada 4.403 jiwa di 21 desa yang tersebar di tujuh kecamatan di Kabupaten Ngawi.

Menurut Atika, distribusi air bersih harus tetap menjadi prioritas selama sumber air warga belum mampu memenuhi kebutuhan sehari-hari. Namun, penanganan jangka panjang perlu disiapkan agar masyarakat di wilayah rawan tidak terus menghadapi persoalan serupa.

Sumur Bor dan Pipanisasi Jadi Pilihan Penanganan

Atika menilai pembangunan sumur bor dan jaringan perpipaan perlu dipertimbangkan untuk memperkuat akses air bersih di desa-desa yang berulang kali mengalami kekeringan.

Menurut politikus Partai Golkar tersebut, penanganan melalui infrastruktur permanen dapat menjadi bagian dari upaya meningkatkan ketahanan air masyarakat.

“Penanganan kekeringan tentu tidak boleh hanya bergantung pada bantuan jangka pendek. Perlu adanya langkah-langkah mitigasi yang lebih permanen, seperti pembangunan sumur bor di titik-titik strategis atau pipanisasi jangka panjang agar desa-desa langganan kering ini memiliki ketahanan air yang lebih baik,” ujarnya, Sabtu (10/10/2026).

Meski demikian, pembangunan infrastruktur air perlu didahului pemetaan kebutuhan masyarakat dan ketersediaan sumber air agar fasilitas yang dibangun dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan.

Atika berharap pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten dapat memperkuat koordinasi untuk menentukan penanganan yang sesuai dengan kondisi masing-masing wilayah terdampak.

Ribuan Warga Ngawi Masih Membutuhkan Air Darurat

Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Ngawi yang dikutip dalam laporan, kekeringan telah berdampak pada 4.403 jiwa di 21 desa pada tujuh kecamatan.

Kondisi tersebut membuat sebagian warga bergantung pada bantuan air bersih untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga.

Salah satu wilayah yang disebut terdampak adalah Desa Cantel, Kecamatan Pitu. Warga setempat dilaporkan harus mengantre untuk memperoleh air dari truk tangki BPBD.

Persoalan pasokan juga dipengaruhi berkurangnya debit air dan layanan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) yang dilaporkan tidak mengalir secara konsisten di sejumlah wilayah terdampak.

Atika meminta pengiriman air bersih terus diperkuat selama kebutuhan masyarakat belum terpenuhi.

“Kita butuh gerak cepat dalam pemenuhan air bersih bagi masyarakat yang terdampak. Jangan sampai warga kesulitan mendapatkan akses air untuk kebutuhan sehari-hari,” katanya.

Menurutnya, pemenuhan kebutuhan dasar harus menjadi perhatian utama dalam penanganan kekeringan.

Kekeringan Ngawi Pernah Menjadi Sorotan DPRD Jatim

Persoalan akses air bersih di Kabupaten Ngawi sebelumnya juga telah menjadi perhatian Atika Banowati.

Ia pernah meminta pemerintah memperkuat penanganan krisis air bersih agar masyarakat terdampak memperoleh bantuan yang dibutuhkan.

Baca selengkapnya: Atika Banowati mendesak penanganan krisis air bersih di Ngawi, terutama untuk memastikan kebutuhan masyarakat di wilayah terdampak kekeringan dapat terpenuhi

Dorongan terbaru mengenai sumur bor dan pipanisasi memperluas perhatian tersebut dari pemenuhan kebutuhan darurat menuju penyediaan infrastruktur air jangka panjang.

Kekeringan di Daerah Lain Perkuat Kebutuhan Mitigasi

Persoalan kekeringan tidak hanya terjadi di Kabupaten Ngawi.

Di Bojonegoro, misalnya, penyaluran bantuan air bersih menjadi salah satu langkah untuk membantu warga yang mengalami kesulitan memperoleh air.

Baca selengkapnya: Budiono menyalurkan bantuan air bersih bagi warga terdampak kekeringan di Bojonegoro sebagai bentuk respons terhadap kebutuhan masyarakat

Sementara itu, persoalan serupa di wilayah Malang juga mendorong perhatian terhadap kebutuhan mitigasi jangka panjang.

Baca selengkapnya: Siadi sebelumnya mendorong mitigasi kekeringan jangka panjang menyusul krisis air bersih yang melanda delapan desa di wilayah Malang

Kedua pemberitaan tersebut menunjukkan adanya perhatian terhadap dua pendekatan penanganan kekeringan, yakni pemenuhan kebutuhan air secara darurat dan penguatan ketahanan air dalam jangka panjang.

Atika Ingatkan Ancaman Kebakaran Saat Kemarau

Selain persoalan air bersih, Atika mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan selama musim kemarau.

Ia mengimbau warga menggunakan air secara bijak serta menghindari pembakaran sampah atau lahan secara sembarangan, khususnya di wilayah yang rentan mengalami kekeringan.

Menurutnya, kesiapsiagaan masyarakat perlu berjalan bersama langkah pemerintah dalam mengurangi dampak musim kemarau.

Atika berharap koordinasi antara Pemprov Jawa Timur, BPBD, dan pemerintah kabupaten/kota dapat terus diperkuat agar distribusi air darurat berjalan lancar sekaligus diikuti perencanaan infrastruktur air yang lebih memadai.

Dengan penanganan tersebut, masyarakat di desa-desa rawan kekeringan diharapkan memiliki akses air bersih yang lebih terjamin dan tidak terus bergantung pada bantuan truk tangki setiap musim kemarau. (Yudhie)

Berita Terkait

Berita Terkait

Agenda DPRD Provinsi Jawa Timur

Agenda DPRD Provinsi Jawa Timur

Index Menu

Index Menu