Krisis Air Bojonegoro, Budiono Fokuskan Bantuan ke Wilayah Selata
Anggota DPRD Jatim Budiono menyalurkan bantuan air bersih ke sejumlah desa terdampak kekeringan di Bojonegoro. Hingga 14/09/2026, BPBD mencatat distribusi telah menjangkau 62 desa di 18 kecamatan.
Kekeringan Bojonegoro Meluas, Budiono Salurkan Bantuan Air Bersih
BOJONEGORO — Kekeringan yang melanda sejumlah wilayah Kabupaten Bojonegoro membuat kebutuhan air bersih masyarakat meningkat. Anggota DPRD Provinsi Jawa Timur dari Daerah Pemilihan Bojonegoro–Tuban, Budiono, menyalurkan bantuan air bersih secara bertahap ke sejumlah desa terdampak.
Bantuan terutama diarahkan ke wilayah yang mengalami kesulitan memperoleh air untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, termasuk kawasan selatan Bojonegoro.
Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bojonegoro menunjukkan, hingga 14/09/2026, distribusi air bersih telah menjangkau 62 desa di 18 kecamatan. BPBD telah mengirim 464 tangki atau setara 2.320.000 liter air bersih ke wilayah terdampak.
BPBD Salurkan 2,32 Juta Liter Air Bersih
Kecamatan yang telah menerima distribusi BPBD antara lain Sumberejo, Sukosewu, Ngraho, Ngambon, Temayang, Margomulyo, Ngasem, Purwosari, Kedewan, Tambakrejo, Bubulan, Sugihwaras, Dander, Malo, Kapas, Kepohbaru, Kedungadem, dan Kasiman.
Data tersebut menunjukkan kebutuhan air bersih tersebar di berbagai wilayah Bojonegoro.
Penanganan sebenarnya telah berlangsung sejak awal musim kemarau. Pada Juni hingga awal Juli 2026, BPBD telah menyalurkan air berdasarkan permohonan pemerintah desa dan hasil asesmen lapangan. Ketika itu, distribusi antara lain dilakukan ke sejumlah desa di Kecamatan Sumberejo, Sukosewu, Ngraho, Ngambon, dan Temayang.
Budiono Kirim Air ke Sejumlah Desa
Kondisi tersebut mendorong Budiono ikut melakukan distribusi air bersih secara bertahap ke wilayah yang membutuhkan.
Bantuan menyasar sejumlah titik, terutama kawasan selatan Bojonegoro. Salah satunya Desa Nganti, Kecamatan Ngraho, yang juga tercantum dalam daftar desa penerima distribusi air BPBD hingga 14/09/2026.
Di Desa Nganti, warga memanfaatkan berbagai wadah untuk mengambil air ketika mobil tangki tiba. Sumur yang mulai mengering membuat pasokan melalui mobil tangki menjadi salah satu sumber sementara untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
“Terima kasih Pak Budiono, semoga berkah kiriman airnya,” ujar salah seorang warga.
Budiono mengatakan distribusi akan dilakukan selama masih terdapat masyarakat yang membutuhkan bantuan.
“Kami terus melakukan dropping air bersih ke beberapa wilayah di Kabupaten Bojonegoro dan Tuban. Terutama di wilayah selatan Bojonegoro yang sangat membutuhkan,” kata Budiono.
Distribusi Diminta Tepat Sasaran
Budiono yang juga Wakil Ketua Komisi A DPRD Jatim menilai proses distribusi perlu dipantau agar bantuan menjangkau masyarakat yang benar-benar mengalami kesulitan air bersih.
“Kami terus memantau proses pengiriman air agar benar-benar dapat dirasakan warga terdampak,” ujarnya.
Bantuan tangki air tersebut menjadi penanganan jangka pendek ketika sumber air warga berkurang atau mengering selama musim kemarau.
Namun, penanganan kekeringan juga membutuhkan solusi jangka panjang agar masyarakat tidak terus bergantung pada distribusi air setiap kali kemarau.
DPRD Jatim Juga Dorong Solusi Permanen Krisis Air
Dorongan agar penanganan krisis air tidak berhenti pada distribusi tangki sebelumnya telah disampaikan sejumlah anggota DPRD Jatim di daerah lain.
Anggota Komisi D DPRD Jatim Dewanti Rumpoko, misalnya, mendorong pembangunan jaringan pipanisasi dan optimalisasi sumur bor untuk mengatasi krisis air berulang di Donomulyo, Kabupaten Malang. Ia juga meminta pemetaan daerah rawan kekeringan serta perlindungan sumber air dan kawasan resapan.
Baca selengkapnya: Donomulyo Langganan Krisis Air Bersih, Dewanti Dorong Solusi Infrastruktur Jangka Panjang
Hal serupa disampaikan Anggota DPRD Jatim Khusnul Khuluk ketika menyoroti krisis air di Jember–Lumajang. Ia menilai distribusi air merupakan bantuan sementara sehingga perlu dibarengi solusi permanen melalui dukungan infrastruktur dan anggaran pemerintah.
Baca selengkapnya: Khusnul Khuluk Soroti Jalan Rusak, Minim PJU, dan Krisis Air Bersih di Jember-Lumajang
Khusnul juga kembali mengangkat persoalan kelangkaan air bersih di Jember–Lumajang dalam momentum HUT ke-81 Kemerdekaan RI dan meminta penguatan intervensi pemerintah.
Baca selengkapnya: HUT ke-81 Kemerdekaan RI, Khusnul Khuluk Soroti Kemiskinan hingga Krisis Air di Jember-Lumajang
Bagi warga Bojonegoro yang saat ini mengalami kekurangan air, distribusi tangki menjadi penanganan darurat. Sementara dalam jangka panjang, pemetaan sumber air dan wilayah rawan kekeringan serta penguatan infrastruktur penyediaan air menjadi bagian penting untuk mengurangi ketergantungan terhadap bantuan setiap musim kemarau.
(geh)










