Fawaid Ingin Beri Pelatihan Pengembangan Ekonomi
Ketua Komisi D DPRD Jawa Timur, Muhammad Fawaid ingin memberi pelatihan pengembangan ekonomi. Pelatihan pengembangan ekonomi bisa diberikan setelah pengajian selesai.
"Maka saya mengandeng dinas terkait bagaimana pengajian-pengajian itu setelah pengajian kan kumpul semua tuh mak-mak, disitulah diberi pelatihan, pembelajaran," terangnya.
Pelatihan pengembangan ekonomi tidak hanya di perkumpulan pengajian saja, tetapi juga menyisir lembaga-lembaga atau kegiatan keagamaan yang melibatkan banyak Mak-mak.
Setelah pelatihan pengembangan ekonomi selesai, Fawaid akan menggandeng Bank Jatim dan Bank UMKM untuk mensosialisasikan paket-paket kredit yang bisa diakses oleh pelaku UKM atau start-up. "Yang saya harap itu banyak terbentuk lewat jaringan mak- mak," tandasnya.
Dunia pesantren tidak lepas dari kegiatan keagamaan yang dihadiri kaum mak-mak. Mak-mak mayoritas konstituen Fawaid saat kampanye Pemilihan legislatif tahun 2019. Mak-mak ini kebanyak tinggal di desa sehingga bisa menyumbang angka pengangguran.
"Kenapa kok mak-mak, kita lihat data di Jatim kemiskinan pengangguran paling banyak di desa. Di desa itu kalau dibreakdown lagi paling banyak itu adalah mak-mak sehingga fokus di situ, " tambahnya.
Menurut pria yang akrab dipanggil Gus Fawaid itu, Jawa Timur adalah provinsi dengan jumlah Pesantren yang banyak. Apalagi saat ini pemerintah pusat bersama DPR RI telah mengesahkan Undang-undang Pesantren. Sebuah hadiah yang dapat memajukan pesantren di Jawa Timur, khususnya Kabupaten Jember dan Lumajang.
"Maka saya fokus kembali bagaimana membuat dunia pesantren ini, madrasah diniyah dan TPQ dapat menjadi sebuah lembaga yang mendapat perhatian yang selayak- layaknya sehingga lulusan pesantren itu tidak kalah dengan lulusan yang lain," tegas Gus Fawaid.
Dengan lahirnya Undang-Undang Pesantren, DPRD ingin Pemprov lebih memperhatikan Pesantren. Bukan hanya slogan ketika kampanye, tetapi ingin membuktikan, apakah pesantren itu betul-betul mendapat perhatian atau tidak dari Pemprov Jatim.
"Kalau saya berharap bahwa pesantren menjadi pionir pendidikan di Jawa Timur dengan jumlahnya besar dan jumlah murid besar," pintanya.
Putra pengasuh Pondok Pesantren Al Qodiri KG Muzaki Syah itu mengupayakan agar pendidikan di pesantren bukan hanya mengajarkan terkait pemikiran ilmiah dan teknologi. Tetapi juga harus memiliki akhlak yang bagus.
Bahkan lulusan Pesantren harus bisa menjadi lulusan percontohan, bahwa santri tidak hanya memiliki ilmu Agama saja. Melainkan juga paham ilmu sains.
"Kita buktikan bahwa lulusan pesantren juga mempunyai kredibilitas. Namun yang terpenting adalah berakhlak," tegasnya.











