19 Daerah Kekeringan, Fraksi PDIP DPRD Jatim Minta Pemprov Siapkan Solusi Permanen
Fraksi PDIP DPRD Jatim meminta Pemprov menyiapkan solusi permanen menghadapi kekeringan di 19 kabupaten/kota akibat ancaman El Nino.
SURABAYA – Ancaman El Nino kuat yang diperkirakan mencapai puncaknya pada Agustus–September 2026 menjadi ujian serius bagi tata kelola sumber daya air di Jawa Timur.
Di tengah 19 kabupaten/kota yang telah menetapkan status kedaruratan kekeringan, Fraksi PDI Perjuangan (PDIP) DPRD Jawa Timur menilai pola penanganan pemerintah masih didominasi langkah darurat dan belum menyentuh akar persoalan.
Anggota Fraksi PDIP DPRD Jatim, Eddy Paripurna, mengkritik penanganan kekeringan yang terus berulang di sejumlah wilayah Jawa Timur, khususnya Kabupaten Pasuruan. Menurutnya, sejumlah desa di Kecamatan Lumbang, seperti Watulumbung, Karangjati, Cukurguling, Pancur, dan Bulukandang, hampir setiap tahun menghadapi krisis air bersih tanpa solusi permanen.
"Setiap tahun masyarakat menghadapi persoalan yang sama. Ini menunjukkan pemerintah daerah belum mampu menyelesaikan masalah kekeringan secara tuntas. Kalau terus berulang, berarti ada yang salah dalam tata kelola penanganannya," ujar Eddy, Jumat (7/8/2026).
Eddy menilai pendekatan yang selama ini mengandalkan distribusi air bersih hanya bersifat reaktif dan tidak dapat dijadikan solusi utama menghadapi perubahan iklim yang semakin ekstrem.
"Jangan sampai setiap musim kemarau pemerintah hanya sibuk mengirim tangki air. Negara harus hadir dengan solusi yang menyelesaikan persoalan dari hulunya, bukan sekadar memadamkan keadaan darurat," ujar mantan Wakil Bupati Pasuruan tersebut.
Karena itu, Eddy mendesak Pemerintah Provinsi Jawa Timur mengambil peran lebih besar. Menurutnya, kekeringan yang terus terjadi di Pasuruan dan sejumlah wilayah lain di Jatim sudah melampaui kapasitas pemerintah kabupaten sehingga membutuhkan intervensi langsung dari pemerintah provinsi.
"Pemprov harus turun tangan. Harus ada kebijakan yang serius agar persoalan kekeringan di beberapa wilayah di Jatim, termasuk Pasuruan, benar-benar tertangani. Jangan biarkan masyarakat menjadi langganan krisis air setiap tahun," pintanya.
Desakan tersebut sejalan dengan peringatan BMKG yang menyebut fenomena Strong El Nino memiliki peluang sekitar 98 persen untuk bertahan dan bahkan berpotensi meningkat menjadi Very Strong El Nino.
Dengan Oceanic Nino Index (ONI) mencapai +1,59 derajat Celsius, Jawa Timur menghadapi ancaman musim kemarau yang lebih panjang, penurunan curah hujan, krisis air bersih, gagal panen, hingga meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan.
Hingga awal Agustus 2026, sebanyak 19 kabupaten/kota di Jawa Timur telah menetapkan status kedaruratan kekeringan. Kabupaten Pasuruan menjadi salah satu daerah yang mulai merasakan dampak serius akibat menurunnya ketersediaan air.
Dorong Mitigasi Kekeringan dari Hulu
Eddy menegaskan, momentum El Nino harus menjadi alarm bagi pemerintah untuk mengubah paradigma penanganan bencana. Menurutnya, kebijakan tidak boleh lagi berorientasi pada respons darurat, tetapi harus bergeser menuju mitigasi yang terencana dan berkelanjutan.
Fraksi PDIP DPRD Jawa Timur, lanjut anggota Komisi B tersebut, mendorong Pemprov Jatim segera mengintegrasikan langkah mitigasi lintas sektor melalui BPBD, Dinas PU Sumber Daya Air, Dinas Pertanian, Dinas Kehutanan, BMKG, pemerintah kabupaten/kota, hingga pemerintah desa.
Selain mempercepat distribusi air bersih bagi wilayah terdampak, Pemprov Jatim didorong mempercepat pembangunan dan rehabilitasi embung, waduk, sumur dalam, jaringan irigasi, pompanisasi, serta konservasi daerah tangkapan air.
Penguatan sistem peringatan dini berbasis data BMKG hingga tingkat desa juga dinilai penting untuk meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat menghadapi ancaman kekeringan.
Di sektor pertanian, Eddy meminta pemerintah tidak menunggu gagal panen terjadi. Penyesuaian pola tanam, penyediaan pompa irigasi, bantuan sarana produksi, hingga perlindungan bagi petani harus dipersiapkan sejak awal agar dampak El Nino terhadap ketahanan pangan dapat ditekan.
"Kekeringan bukan lagi persoalan cuaca semata, tetapi sudah menjadi tantangan tata kelola pemerintahan. Pemerintah harus berani berinvestasi pada infrastruktur sumber daya air dan sistem mitigasi yang berkelanjutan. Jangan sampai rakyat hanya mendapat perhatian ketika tangki air datang, tetapi dilupakan setelah musim hujan tiba," pungkas anggota DPRD Jatim dari Daerah Pemilihan Pasuruan–Probolinggo tersebut. (ari)










