Dewanti Rumpoko Soroti Wacana Pengurangan Exit Tol Malang–Kepanjen
Dewanti Rumpoko meminta kajian mendalam terhadap wacana pengurangan exit tol Malang–Kepanjen agar akses masyarakat dan pemerataan ekonomi tetap terjaga.
SURABAYA – Rencana pembangunan Jalan Tol Malang–Kepanjen kembali menjadi sorotan setelah muncul wacana pengurangan jumlah pintu keluar atau exit tol. Proyek yang disebut sebagai bagian dari prioritas pembangunan nasional tersebut sebelumnya direncanakan memiliki empat titik akses. Namun, dalam perkembangan terbaru, jumlah tersebut berpotensi dikurangi menjadi dua titik.
Anggota Komisi D DPRD Jawa Timur, Dewanti Rumpoko, memberikan pandangan kritis sekaligus catatan terkait efektivitas dan dampak wacana tersebut terhadap mobilitas warga lokal.
Politisi PDI Perjuangan ini menekankan bahwa pembangunan infrastruktur jalan bebas hambatan seharusnya berorientasi pada pemerataan ekonomi dan kemudahan akses masyarakat.
“Pemangkasan titik keluar tol dikhawatirkan justru memindahkan titik-titik kemacetan baru ke jalur penghubung sekunder di luar tol,” kata dia, Rabu (2/9/2026).
Sebagai politisi yang memahami dinamika wilayah Malang Raya, Dewanti menilai Kabupaten Malang memiliki karakteristik wilayah yang luas dengan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi yang tersebar.
Jika akses keluar tol dibatasi secara drastis, manfaat ekonomi dari keberadaan jalan tol dikhawatirkan tidak terserap secara merata oleh masyarakat di tingkat kecamatan maupun kawasan industri dan pariwisata di sekitarnya.
“Saya mendorong agar pihak pengembang maupun instansi terkait melakukan kajian ulang yang mendalam sebelum mengambil keputusan final,” jelasnya.
Dewanti Soroti Dampak Pengurangan Exit Tol dan Minta Kajian Mendalam Sebelum Finalisasi
Mantan Wali Kota Batu ini mengungkapkan, pengurangan jumlah exit tol perlu dipertimbangkan berdasarkan beberapa aspek krusial, di antaranya kepadatan lalu lintas harian.
Menurutnya, perlu dilakukan analisis volume kendaraan secara berkala untuk memastikan setiap titik keluar tol mampu menampung lonjakan arus, terutama pada akhir pekan dan musim liburan.
Tak hanya itu, perlu dipastikan bahwa dua titik exit tol yang tersisa tetap dapat menjangkau pusat aktivitas utama tanpa melumpuhkan jalur arteri lokal.
“Menjaga agar akses menuju sentra UMKM, kawasan agrowisata, dan pusat perdagangan di Kabupaten Malang tetap kompetitif dan mudah dijangkau wisatawan maupun investor,” bebernya.
Dewanti menilai penentuan jumlah dan lokasi exit tol harus mempertimbangkan kebutuhan masyarakat serta perkembangan kawasan dalam jangka panjang.
Hal tersebut penting agar pembangunan jalan tol tidak hanya berorientasi pada efisiensi teknis proyek, tetapi juga mampu memberikan manfaat bagi konektivitas dan aktivitas ekonomi masyarakat di wilayah yang dilintasi.
Tol Malang–Kepanjen Diharapkan Perkuat Konektivitas Malang Raya
Dewanti mengatakan pembangunan Tol Malang–Kepanjen merupakan salah satu proyek yang dinantikan untuk menunjang konektivitas dari Kota Malang menuju wilayah selatan.
“Dengan adanya masukan ini diharapkan penentuan titik akhir exit tol dapat mengakomodasi kepentingan jangka panjang warga setempat tanpa mengorbankan aspek efisiensi teknis proyek itu sendiri,” pungkasnya. (Yudhie)
Baca Selengkapnya:
-
DPRD Jatim mendorong kesiapan infrastruktur di Madura untuk mendukung masuknya investasi dan memastikan pembangunan infrastruktur memberikan dampak terhadap pertumbuhan ekonomi serta masyarakat lokal
-
Miseri Efendy mendorong percepatan rekonstruksi infrastruktur pascabencana di wilayah selatan Jawa Timur karena infrastruktur dinilai penting untuk konektivitas, pelayanan publik, dan pertumbuhan ekonomi masyarakat
-
Siadi Komisi D DPRD Jatim menyoroti masih tingginya persentase jalan provinsi yang belum memenuhi standar lebar 7 meter dan mendorong penanganan secara bertahap










