Indra Widya Dorong Embung dan Pipanisasi Atasi Kekeringan Pacitan
Indra Widya Agustina meminta Pemprov Jatim menyiapkan infrastruktur air permanen di Pacitan setelah warga Dusun Sumber, Desa Ketepung, dilaporkan harus berjalan sekitar 600 meter untuk memperoleh air bersih.
SURABAYA — Kesulitan memperoleh air bersih di Dusun Sumber, Desa Ketepung, Kecamatan Kebonagung, Kabupaten Pacitan, mendorong Anggota DPRD Provinsi Jawa Timur Indra Widya Agustina meminta pemerintah menyiapkan infrastruktur penyediaan air yang lebih berkelanjutan.
Menurut Indra, ketergantungan masyarakat terhadap sumber air darurat menunjukkan perlunya penanganan yang tidak hanya mengandalkan bantuan saat musim kemarau.
Anggota Fraksi Partai Demokrat tersebut mengusulkan pembangunan jaringan perpipaan, sumur bor dalam, dan embung sebagai sejumlah pilihan untuk memperkuat ketersediaan air di wilayah rawan kekeringan.
Warga Ketepung Harus Menempuh 600 Meter untuk Mendapatkan Air
Kondisi kekeringan di Dusun Sumber menjadi perhatian setelah muncul laporan mengenai warga yang harus berjalan kaki sekitar 600 meter untuk memperoleh air.
Masyarakat disebut mengandalkan satu sumber air darurat yang debitnya terus menyusut selama musim kemarau.
Situasi tersebut membuat pemenuhan kebutuhan sehari-hari menjadi semakin sulit, terutama ketika ketersediaan air di sumber yang digunakan warga berkurang.
Indra meminta pemerintah daerah memastikan kebutuhan dasar masyarakat tetap terpenuhi selama kondisi tersebut berlangsung.
“Kondisi warga yang harus berjalan ratusan meter dan mengandalkan satu sumber air darurat di tengah kemarau panjang ini tentu sangat memprihatinkan. Negara dan pemerintah daerah, khususnya Pemprov Jatim, harus hadir secara cepat untuk memastikan kebutuhan dasar masyarakat, yakni air bersih, tercukupi,” ujar Indra, Minggu (11/10/2026).
Menurutnya, penanganan perlu mempertimbangkan kondisi geografis dan kesulitan akses yang dialami warga.
Indra Usulkan Pipanisasi, Sumur Bor, dan Embung
Indra menilai pembangunan infrastruktur air perlu dipertimbangkan sebagai bagian dari penanganan kekeringan di Pacitan.
Salah satu pilihan yang diusulkannya adalah jaringan perpipaan dari sumber mata air dengan debit yang lebih memadai menuju permukiman warga.
Ia juga mendorong kajian pembangunan sumur bor dalam di lokasi yang memungkinkan, serta embung untuk menampung air hujan sebagai cadangan pada musim kemarau.
“Ke depan, kita perlu mendorong pembangunan infrastruktur penyediaan air bersih yang lebih merata, seperti pipanisasi dari sumber mata air yang lebih besar, pembuatan sumur bor dalam (deep well) di titik-titik strategis, atau pembangunan embung penampung air hujan. Jangan sampai setiap kali musim kemarau tiba, warga selalu kesulitan mendapatkan akses air bersih,” katanya.
Menurut Indra, pilihan infrastruktur tersebut perlu disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat dan kondisi sumber air di masing-masing wilayah.
Penyediaan air secara permanen diharapkan dapat mengurangi kesulitan yang berulang ketika musim kemarau datang.
Bantuan Air Bersih Tetap Dibutuhkan Selama Kemarau
Meski mendorong solusi jangka panjang, Indra menegaskan bahwa kebutuhan air bersih masyarakat saat ini tetap harus ditangani.
Ia meminta Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Timur bersama dinas terkait memperluas jangkauan distribusi bantuan air ke desa-desa terdampak kekeringan.
Desa Ketepung menjadi salah satu wilayah yang menurutnya membutuhkan perhatian dalam penyaluran bantuan tersebut.
Distribusi air melalui truk tangki dinilai dapat membantu memenuhi kebutuhan mendesak sambil menunggu tersedianya sarana penyediaan air yang lebih memadai.
Indra berharap pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten dapat memperkuat koordinasi agar bantuan menjangkau masyarakat yang membutuhkan.
Solusi Permanen Kekeringan Terus Menjadi Perhatian DPRD Jatim
Dorongan pembangunan infrastruktur air bukan hanya muncul dalam penanganan kekeringan di Pacitan.
Di wilayah Malang, Anggota DPRD Jatim Puguh Wiji Pamungkas sebelumnya menyalurkan bantuan air bersih sekaligus mendorong penyelesaian persoalan kekeringan secara berkelanjutan.
Baca selengkapnya: Puguh Wiji Pamungkas sebelumnya menyalurkan bantuan air bersih bagi warga terdampak kekeringan di Malang dan mendorong solusi permanen untuk mengurangi ketergantungan pada bantuan darurat
Persoalan serupa juga menjadi perhatian Dewanti Rumpoko ketika menyoroti krisis air bersih di wilayah Donomulyo, Kabupaten Malang.
Baca selengkapnya: Dewanti Rumpoko mendorong penanganan permanen terhadap krisis air bersih di Donomulyo agar masyarakat memiliki akses air yang lebih terjamin
Sementara itu, percepatan distribusi air menjadi perhatian DPRD Jatim dalam penanganan kekeringan di Madura.
Baca selengkapnya: Harisandi sebelumnya meminta percepatan distribusi bantuan air bersih di Madura untuk membantu masyarakat yang menghadapi kesulitan pasokan air
Perhatian anggota DPRD Jatim terhadap penanganan kekeringan melalui bantuan darurat dan penguatan akses air dalam jangka panjang terus dicurahkan agar isu ini tetap menjadi salh satu fokus Pemerintah Provinsi Jawa Timur.
Infrastruktur Air Perlu Disesuaikan dengan Kondisi Wilayah
Indra berharap penanganan kekeringan di Pacitan dapat diarahkan pada perbaikan akses air yang lebih merata.
Menurutnya, pembangunan infrastruktur perlu menjadi perhatian agar masyarakat tidak terus menghadapi kesulitan yang sama setiap musim kemarau.
Namun, penentuan lokasi sumur bor, jaringan perpipaan, maupun embung tetap memerlukan kajian teknis untuk memastikan ketersediaan sumber air dan keberlanjutan pengelolaannya.
Sementara perencanaan tersebut disiapkan, Indra meminta pemerintah tidak mengabaikan kebutuhan mendesak warga Desa Ketepung yang masih bergantung pada sumber air darurat.
Dengan memadukan distribusi bantuan dan pembangunan infrastruktur, penanganan kekeringan diharapkan dapat memberikan manfaat yang lebih berkelanjutan bagi masyarakat Pacitan. (Yudhie)










