Nilai Tukar Rupiah Melemah, Petani dan Nelayan di Jatim Butuh Perhatian Pemprov
Anggota Komisi B DPRD Jawa Timur Ro'aitu Nafif Laha meminta Pemerintah Provinsi Jawa Timur memberikan perhatian khusus kepada petani dan nelayan menyusul pelemahan nilai tukar rupiah yang berpotensi meningkatkan biaya produksi sektor pertanian dan perikanan.
DPRD Jatim Soroti Dampak Pelemahan Rupiah terhadap Sektor Pertanian dan Perikanan
SURABAYA – Anggota Komisi B DPRD Provinsi Jawa Timur, Ro'aitu Nafif Laha, meminta Pemerintah Provinsi Jawa Timur memberikan perhatian serius kepada petani dan nelayan menyusul pelemahan nilai tukar rupiah yang berpotensi berdampak pada sektor pertanian dan perikanan.
Politikus Partai Gerindra tersebut menilai pelemahan rupiah dapat meningkatkan biaya impor berbagai bahan baku strategis yang masih dibutuhkan sektor pertanian dan perikanan nasional.
Menurut legislator asal Kediri itu, sejumlah komoditas seperti kedelai, gandum, garam industri, hingga bahan baku pakan ternak masih memiliki ketergantungan terhadap pasokan impor. Kondisi tersebut berpotensi menyebabkan kenaikan biaya produksi ketika nilai tukar rupiah mengalami tekanan.
“Kenaikan biaya impor komponen tersebut bakal memberatkan pelaku usaha di tingkat bawah. Tentunya petani dan nelayan juga akan merasakan dampaknya. Oleh sebab itu, saya meminta Pemerintah Provinsi Jawa Timur untuk memberikan perhatian khusus kepada mereka,” ungkap Ro'aitu, Kamis (04/06/2026).
Swasembada Pangan dan Subsidi Tepat Sasaran Jadi Solusi
Ro'aitu menilai pemerintah daerah perlu mempercepat program swasembada pangan guna mengurangi ketergantungan terhadap bahan baku impor dan memperkuat ketahanan pangan daerah.
Menurutnya, langkah konkret yang dapat dilakukan antara lain melalui penguatan industri pakan lokal, pengembangan benih unggul nasional, serta penyaluran subsidi yang tepat sasaran kepada petani dan nelayan.
“Langkah konkret harus segera diambil melalui penguatan industri pakan lokal, pengembangan benih unggul nasional, serta penyaluran subsidi yang tepat sasaran bagi petani dan nelayan,” tuturnya.
Selain itu, ia mendorong Pemerintah Provinsi Jawa Timur untuk terus menggencarkan program pasar murah guna menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok dan mengendalikan inflasi daerah.
Petani dan Nelayan Perlu Perlindungan di Tengah Gejolak Ekonomi
Ro'aitu menambahkan bahwa pasar murah dan berbagai program stabilisasi harga perlu dioptimalkan agar hasil panen petani maupun hasil tangkapan nelayan tetap terserap dengan harga yang layak.
Menurutnya, perlindungan terhadap sektor pertanian dan perikanan sangat penting mengingat kedua sektor tersebut menjadi penopang ketahanan pangan sekaligus sumber penghidupan masyarakat di Jawa Timur.
Baca Selengkapnya:
-
DPRD Jatim meminta pemerintah melakukan operasi pasar kedelai untuk menjaga stabilitas harga dan melindungi pelaku usaha dari kenaikan biaya produksi
-
Komisi B DPRD Jatim menyiapkan langkah penanganan terhadap anjloknya harga telur untuk melindungi peternak dan menjaga stabilitas sektor pangan
-
DPRD Jatim meminta perhatian serius terhadap nasib nelayan yang terdampak kelangkaan BBM subsidi agar aktivitas ekonomi masyarakat pesisir tetap berjalan
Berdasarkan data pasar keuangan, rupiah melemah pada perdagangan Rabu (03/06/2026). Data Bloomberg menunjukkan nilai tukar rupiah berada di level Rp17.886 per dolar Amerika Serikat (AS) pada pukul 10.05 WIB, atau melemah 81 poin dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya.
Ro'aitu berharap pemerintah daerah dapat mengambil langkah antisipatif agar dampak pelemahan rupiah tidak semakin membebani petani dan nelayan yang selama ini menjadi tulang punggung ketahanan pangan Jawa Timur.










