gerbang baru nusantara

Sumardi Desak Pipanisasi untuk Warga Terdampak Sumur Kering di Jombang

Anggota DPRD Jatim Sumardi meminta percepatan pipanisasi untuk sekitar 20–30 keluarga di Dusun Guwo, Jombang, yang mengalami kesulitan air bersih setelah pompa irigasi beroperasi.

Try Wahyudi
Kamis, 08 Oktober 2026
Bagikan img img img img
Anggota DPRD Provinsi Jawa Timur Sumardi mendorong penyediaan jaringan pipa air bersih bagi warga Dusun Guwo, Kecamatan Mojowarno, Kabupaten Jombang, yang mengalami kesulitan air sumur.

SURABAYA — Anggota DPRD Provinsi Jawa Timur Sumardi mendesak penyediaan jaringan pipa air bersih bagi warga Dusun Guwo, Desa Latsari, Kecamatan Mojowarno, Kabupaten Jombang. Langkah tersebut dinilai mendesak setelah sejumlah sumur rumah tangga dilaporkan mengalami penurunan debit hingga tidak lagi mengeluarkan air.

Persoalan itu muncul di tengah pengoperasian fasilitas irigasi perpompaan yang digunakan untuk mendukung kebutuhan air pertanian setempat.

Sumardi meminta pemerintah daerah dan instansi terkait segera memastikan kebutuhan air bersih warga tetap terpenuhi tanpa harus menghentikan manfaat infrastruktur pertanian.

Sumardi Minta Akses Air Bersih Segera Dipulihkan

Menurut Sumardi, penanganan kesulitan air di Dusun Guwo tidak cukup dilakukan dengan meminta masyarakat mencari sumber air alternatif secara mandiri.

Pemerintah perlu menyiapkan langkah yang dapat menjamin ketersediaan air bagi rumah tangga terdampak, salah satunya melalui pembangunan jaringan perpipaan.

“Pemerintah daerah maupun instansi terkait perlu segera merealisasikan program pipanisasi (jaringan pipa air bersih) yang menjangkau langsung ke rumah-rumah warga terdampak di Dusun Guwo,” jelas Sumardi, Kamis (08/10/2026).

Politikus Partai Golkar tersebut menilai pemulihan akses air bersih harus menjadi perhatian utama karena berkaitan langsung dengan kebutuhan dasar masyarakat.

Ia juga meminta pemerintah tidak membiarkan warga menanggung sendiri biaya penanganan sumur yang mengalami penurunan debit.

“Pemerintah tidak boleh tinggal diam melihat warga kesulitan mendapatkan air bersih akibat proyek pembangunan yang sejatinya bertujuan untuk kesejahteraan. Oleh karena itu, percepatan pipanisasi ke rumah-rumah warga terdampak sumur bor tersebut menjadi sebuah kebutuhan mendesak yang harus segera direalisasikan,” ujarnya.

Sekitar 20–30 Keluarga Dilaporkan Terdampak

Berdasarkan informasi dalam laporan awal, kesulitan air bersih di Dusun Guwo diperkirakan dialami sekitar 20–30 kepala keluarga.

Kondisi sumur yang terdampak tidak seragam. Sebagian mengalami penurunan debit, sementara sumur lainnya dilaporkan hanya menghasilkan air berlumpur atau tidak lagi mengeluarkan air.

Masalah tersebut mulai dirasakan warga setelah fasilitas irigasi perpompaan di kawasan itu dioperasikan secara aktif dalam sekitar dua pekan terakhir.

Sejumlah warga bahkan dilaporkan mengeluarkan biaya hingga jutaan rupiah untuk memperdalam sumur pribadi agar kembali memperoleh pasokan air.

Meski demikian, hubungan langsung antara pengoperasian pompa irigasi dan penurunan debit sumur rumah tangga masih memerlukan pemeriksaan teknis.

Evaluasi terhadap kondisi sumber air, penggunaan air tanah, dan pola pengoperasian pompa diperlukan agar penanganan tidak hanya didasarkan pada dugaan.

Irigasi Pertanian dan Kebutuhan Rumah Tangga Harus Seimbang

Fasilitas irigasi perpompaan di Dusun Guwo disebut dibangun melalui anggaran APBN 2025 senilai Rp153 juta dan dikerjakan oleh Kelompok Tani Guwo.

Dalam laporan awal, proyek tersebut dikaitkan dengan kerja sama Kementerian Pertanian, instansi pemerintah provinsi, serta Dinas Pertanian Kabupaten Jombang.

Keberadaan fasilitas irigasi diharapkan membantu petani memenuhi kebutuhan air untuk kegiatan pertanian.

Namun, Sumardi mengingatkan bahwa manfaat pembangunan tersebut harus berjalan seiring dengan perlindungan akses air bersih masyarakat di sekitar lokasi.

Menurutnya, penyediaan jaringan perpipaan dapat menjadi salah satu alternatif agar kebutuhan air rumah tangga tetap terpenuhi ketika fasilitas irigasi beroperasi.

Ia mendorong pemerintah daerah, instansi teknis, dan pihak terkait berkoordinasi untuk menentukan langkah penanganan yang sesuai dengan kondisi lapangan.

DPRD Jatim Dorong Penanganan Kekeringan Berkelanjutan

Persoalan akses air bersih di Jombang menambah perhatian terhadap pentingnya pengelolaan sumber daya air di Jawa Timur.

Sebelumnya, anggota DPRD Jatim Puguh Wiji Pamungkas juga mendorong penyusunan perencanaan jangka panjang untuk menangani kekeringan.

Baca selengkapnya: Puguh Wiji Pamungkas mendorong rancangan penanganan kekeringan secara permanen agar persoalan ketersediaan air tidak terus berulang setiap tahun

Perhatian serupa disampaikan Lilik Hendarwati yang menekankan pentingnya penguatan ketahanan air dalam menghadapi ancaman kekeringan di Jawa Timur.

Baca selengkapnya: Lilik Hendarwati mendorong penguatan ketahanan air sebagai langkah menghadapi kekeringan dan menjaga ketersediaan air bagi masyarakat

Kedua pandangan tersebut menjadi konteks penting bagi penanganan persoalan air di Dusun Guwo, terutama mengenai perlunya solusi yang tidak hanya bersifat sementara.

Pipanisasi Perlu Diikuti Evaluasi Sumber Air

Sumardi berharap koordinasi antara pemerintah daerah dan instansi terkait segera menghasilkan langkah nyata bagi masyarakat terdampak.

Penyediaan jaringan pipa air bersih dinilai dapat menjadi salah satu pilihan penanganan, dengan tetap mempertimbangkan ketersediaan sumber air yang aman dan berkelanjutan.

Selain itu, evaluasi terhadap pengoperasian fasilitas irigasi perlu dilakukan agar kebutuhan pertanian dan rumah tangga dapat dipenuhi secara seimbang.

Bagi Sumardi, pembangunan infrastruktur pertanian seharusnya memperkuat kesejahteraan masyarakat tanpa menimbulkan persoalan baru terhadap pemenuhan kebutuhan dasar warga. (Yudhie)

 

Berita Terkait

Berita Terkait

Agenda DPRD Provinsi Jawa Timur

Agenda DPRD Provinsi Jawa Timur

Index Menu

Index Menu